
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Tafsir QS. Ali Imran ayat 139: Badai Pasti Berlalu, Janji Allah Pasti Berlaku
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mahyani Devi, Lc. Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Rabu , 22 Juli 2026 M / 8 Safar 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Baiturohim – Bulakindah Karangasem.
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 139:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٣٩
Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.
Ayat ini turun sebagai penghibur bagi Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat setelah mengalami ujian berat dan gugurnya para pejuang dalam Perang Uhud. Dalam Perang Uhud, jumlah sahabat yang gugur (syahid) adalah sebanyak 70 orang. Maka, Allah ﷻ mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh patah semangat maupun larut dalam kesedihan yang mendalam.
Kesalahan fatal dalam Perang Uhud adalah ketidaktaatan pasukan pemanah terhadap perintah Rasulullah ﷺ untuk tetap berada di atas bukit pemanah, baik dalam kondisi menang maupun kalah. Tergiur dengan harta rampasan perang, mayoritas dari mereka turun dari pos penjagaan sehingga pasukan musuh yang dipimpin Khalid bin Walid berhasil menyerbu balik dari arah belakang.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Dalam ayat ini, Allah ta’ala tidak menyalahkan kaum muslimin dan nabi pun tidak memarahi mereka, tetapi dalam ayat ini Allah ta’aala menyuruh memaafkan dan memohonkan ampun serta bermusyawarah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Dalam ayat lainya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)
“Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”
Prinsip optimisme ini merujuk pada tafsir Surat Al-Insyirah ayat 5-6, di mana setiap satu masa sulit yang diberikan Allah akan selalu didampingi oleh dua kemudahan, yakni kemudahan sebelum dan sesudahnya.
Hal ini ditegaskan oleh ulama (seperti Ibnu Katsir) dari kaidah bahasa Arab bahwa kata “kesulitan” (al-‘usri) menggunakan bentuk makrifat (spesifik/tunggal), sedangkan “kemudahan” (yusran) disebutkan berulang kali dalam bentuk nakirah (umum/dua). Ujian ini juga bersifat berdampingan, bukan hanya datang setelah kesulitan selesai.
وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا ١
Dan Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar
Maka, bersyukurlah dengan apa yang telah Allah ﷻ karuniakan yang begitu banyak.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ mengingatkan kita tentang pentingnya bersyukur melalui kisah Nabi Daud alaihi salam. Allah ﷻ berfirman:
ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ
“Beramallah, hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13).
Kisah ini mengandung pelajaran penting tentang hakikat syukur yang harus kita hayati dalam kehidupan sehari-hari. Menurut tafsir Al-Qurthubi, hakikat syukur adalah pengakuan atas nikmat yang diberikan oleh Allah dan menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada-Nya.
Demikian juga Nabi ﷺ bersyukur yang diwujudkan dalam bentuk shalat malam.
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
وَعَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ نَحْوُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820]
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah seperti di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari, no. 4836 dan Muslim, no. 2819].
“Kullu man alaiha faan”
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
adalah penggalan ayat Al-Qur’an dari Surat Ar-Rahman ayat 26, yang artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala makhluk dan kehidupan dunia bersifat sementara (fana) dan tidak ada yang kekal.
Kelanjutan ayat tersebut, yakni ayat 27, menegaskan bahwa hanya Allah ﷻ yang Maha Kekal:
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan loyo/malas. Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah. Dan apa yang Dia inginkan, maka Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664. Lihat Syarh Nawawi, jilid 8, hal. 260).
Faedahnya mencakup dicintai Allah, produktif beramal, dan tahan banting. Kekuatan ini meliputi fisik, mental, hingga akidah, yang dicapai dengan ilmu bermanfaat, ikhtiar maksimal, dan ridha terhadap takdir.
Mukmin yang kuat memiliki iman yang tahan uji dan tidak goyah dalam menghadapi cobaan dan tantangan. Mereka yakin sepenuhnya pada ajaran agama dan Allah.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |