
Bismillah
Alhamdulillah, Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haq li yuzhirohu ala dini kulli wa kafa billahi syahida. Ashadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah, iqroran bihi wa tauhida. Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh, sallallahu alaihi wasallama tasliman masida.
Allahumma alimna ma yanfauna, wanfa’na bima alamta na, wa zidna ilma. Allahumma ati nufusana taqwaha, wa zakiha anta khairu man zakkaha, anta waliyuha wa maulaha. Rabbi rohli sodri, wa yassirli amri, wahlul uqdatam mil lisan yafqahu qouli. Amin.
Ibu-ibu rahimani wa rahimakunnajmaian.
Tema kajian pagi ini adalah “Meraih Surga Tertinggi”. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memahami ilmu dan mengamalkannya.
Sebelum membahas surga, kita perlu menumbuhkan semangat menuntut ilmu. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullāh dinukil mengatakan:
العِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ
“Tidak ada sesuatu yang menyamai keutamaan ilmu bagi orang yang benar niatnya.”
Ketika ditanya bagaimana niat yang benar, beliau menjelaskan bahwa seseorang meniatkan ilmunya untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain. Jadi, setiap kali ilmu yang benar datang, kebodohan berkurang. Ilmu mendorong seseorang melakukan amal saleh; tanpa ilmu, seseorang bisa saja bersemangat beramal, tetapi amalnya keliru karena tidak memenuhi tuntunan syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Allah akan memahamkannya dalam agama. Karena itu, ukuran kebaikan tidak semata-mata berupa harta, kecantikan, kedudukan, ketenaran, atau keberhasilan anak. Dunia dapat diberikan kepada orang yang dicintai Allah maupun yang tidak dicintai-Nya, sedangkan pemahaman agama merupakan karunia besar yang semestinya disyukuri.
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.”
HR. al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037, dari Mu‘awiyah bin Abi Sufyan radhiyallāhu ‘anhumā.
Ilmu tidak datang hanya dengan angan-angan. Ilmu harus dicari, dipelajari, dan diperjuangkan. Para ulama menempuh perjalanan panjang dan belajar kepada banyak guru. Imam al-Bukhari, misalnya, dikenal memiliki banyak guru dan meninggalkan karya-karya yang terus memberi manfaat. Jika untuk ilmu dunia seseorang rela belajar hingga larut malam demi ujian atau pekerjaan, semestinya ia lebih bersemangat mempelajari ilmu akhirat karena ilmu itulah yang membimbingnya menuju keselamatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
HR. Muslim no. 2699. Ilmu membuka pintu-pintu amal yang benar. Sebaliknya, orang yang tidak memahami tuntunan agama bisa melakukan ibadah dengan cara yang keliru. Karena itu, mari menuntut ilmu dengan niat yang lurus, lalu mengamalkannya.
Surga memiliki tingkatan. Jika disebut surga tertinggi, berarti ada tingkatan-tingkatan di bawahnya. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa di surga terdapat seratus tingkatan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya, dan jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi.
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sesungguhnya di surga terdapat seratus tingkatan yang Allah siapkan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi.”
HR. al-Bukhari no. 2790. Dalam hadis yang sama, Nabi ﷺ memerintahkan agar kita meminta surga Firdaus.
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ
“Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena ia adalah bagian tengah surga dan surga yang paling tinggi.”
Dalam riwayat tersebut juga disebutkan bahwa di atas Firdaus terdapat ‘Arsy Ar-Rahman dan dari Firdaus memancar sungai-sungai surga. Karena itu, seorang muslim tidak sepatutnya merasa cukup dengan cita-cita yang rendah. Kita diperintahkan untuk memohon yang terbaik: surga Firdaus.
Di antara dalil tentang tingkatan surga adalah keutamaan orang yang membaca dan menghafal Al-Qur’an. Dalam hadis disebutkan bahwa pemilik Al-Qur’an akan diminta membaca dan naik, dan kedudukannya berada pada ayat terakhir yang ia baca. Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud no. 1464 dan at-Tirmidzi no. 2914. Ini menjadi dorongan untuk menghafal, membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Perbedaan derajat di surga menunjukkan bahwa amal tidak sia-sia. Masuk surga terjadi karena rahmat Allah, sedangkan amal saleh menjadi sebab peninggian derajat dengan karunia-Nya. Orang yang lebih banyak dan lebih baik amalnya tidak sama kedudukannya dengan orang yang amalnya lebih sedikit. Maka, jangan hanya bercita-cita sekadar masuk surga; mohonlah derajat tertinggi dan berusahalah dengan amal yang diridai Allah.
Di antara dalil utama pembahasan ini adalah sabda Nabi ﷺ:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar; rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun sedang bercanda; dan rumah di bagian tertinggi surga bagi orang yang memperbagus akhlaknya.”
HR. Abu Dawud no. 4800; dinilai hasan oleh al-Albani.
Hadis ini menunjukkan keutamaan akhlak mulia. Akhlak bukan hanya berbicara lembut atau tidak menyakiti manusia. Cakupannya luas, meliputi akhlak kepada Allah, kepada Rasulullah ﷺ, kepada sesama manusia, bahkan kepada hewan.
Akhlak kepada Allah diwujudkan dengan mentauhidkan-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan menjauhi syirik. Seseorang mungkin dikenal santun di tengah masyarakat, tetapi jika ia melakukan kesyirikan, kebaikan perilaku sosial saja tidak menjadikan akidahnya benar. Karena itu, ilmu tentang tauhid harus dipelajari dan dijaga.
Akhlak kepada Nabi ﷺ diwujudkan dengan mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, membela agama yang beliau bawa, dan menghidupkan tuntunan beliau dalam kehidupan. Cinta bukan sekadar pengakuan, melainkan dibuktikan dengan ittiba‘ atau mengikuti petunjuk beliau.
Akhlak juga tampak dalam hubungan dengan orang tua, pasangan, anak, mertua, kerabat, dan orang-orang yang hidup bersama kita. Ilmu seharusnya memperbaiki perilaku. Setelah mengikuti majelis ilmu, hendaknya ada perubahan nyata: lebih berbakti kepada orang tua, lebih lembut kepada keluarga, lebih sabar, dan lebih mampu menempatkan hak setiap orang sesuai tuntunan agama.
Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا … فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya, jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
QS. al-Isra’ [17]: 23. Lanjutan ayat memerintahkan agar kita merendahkan diri kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan berdoa agar Allah merahmati mereka (QS. al-Isra’ [17]: 24).
Pemateri mengingatkan bahwa berbuat baik kepada orang tua dan mertua sama-sama penting, tetapi hak dan prioritas perlu dipahami berdasarkan ilmu, bukan ego. Jangan menjadikan pasangan sebagai alasan untuk memutus hubungan dengan keluarganya. Dalam rumah tangga, akhlak termasuk memahami hak-hak dan tanggung jawab masing-masing, menjaga lisan, serta tidak memaksa orang lain mengikuti keinginan pribadi.
Nabi ﷺ adalah teladan dalam memperlakukan keluarga. Beliau menyambut putrinya Fatimah dengan penuh penghormatan. Dalam kisah yang disebut pemateri, beliau juga membantu istrinya Shafiyyah ketika hendak naik ke unta. Hal-hal sederhana seperti menyambut anggota keluarga, membantu, tersenyum, dan berbicara baik merupakan bagian dari akhlak mulia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.”
HR. at-Tirmidzi no. 3895.
Berbuat baik kepada orang tua yang telah lanjut usia membutuhkan kesabaran. Jangan sampai seseorang bersikap ramah kepada orang lain, tetapi bermuka masam kepada orang tuanya sendiri. Perubahan akhlak yang lahir dari ilmu hendaknya pertama kali dirasakan oleh orang-orang terdekat.
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
“Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya.”
HR. at-Tirmidzi no. 1944, dengan redaksi yang diriwayatkan dalam bab hak tetangga.
Berbuat baik kepada tetangga tidak boleh bergantung pada apakah mereka membalas kebaikan kita. Jika kita memberi makanan lalu tetangga tidak mengucapkan terima kasih atau mengembalikan wadah dalam keadaan kotor, jangan menjadikan hal itu alasan untuk berhenti berbuat baik. Pada saat yang sama, jangan mengganggu atau merugikan tetangga. Kebaikan dilakukan karena Allah, bukan untuk memperoleh balasan manusia.
Nabi ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
HR. al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40.
Lisan dapat melukai orang lain melalui ucapan kasar, hinaan, ghibah, dusta, atau perkataan yang tidak dipikirkan. Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47.
Ketika marah dan khawatir ucapan akan menyakiti orang lain, diam sejenak dapat menjadi jalan keluar. Menahan lisan bukan kelemahan, melainkan bagian dari menjaga iman dan akhlak.
Ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, Nabi ﷺ menyebut takwa kepada Allah dan akhlak yang baik. Riwayat ini terdapat dalam Jami‘ at-Tirmidzi no. 2004.
Memperbaiki akhlak tidak terjadi seketika. Sebagaimana ilmu dipelajari sedikit demi sedikit, akhlak pun perlu dilatih secara bertahap. Dalam penjelasan pemateri, ada akhlak yang merupakan tabiat atau karunia yang telah ada pada seseorang, dan ada akhlak yang harus diusahakan melalui latihan.
Sebagian orang sejak awal dikenal lembut dan sabar. Namun, tidak semua orang memiliki tabiat demikian. Banyak orang perlu berjuang mengubah diri: yang mudah marah belajar bersabar, yang acuh belajar peduli, yang biasa berbicara keras belajar melembutkan suara, dan yang sulit memaafkan belajar memberi maaf.
Perubahan akhlak membutuhkan pertolongan Allah. Karena itu, jangan meninggalkan doa. Di antara doa Nabi ﷺ adalah:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak terbaik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk; tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku selain Engkau.”
Doa ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim no. 771, dalam rangkaian doa salat malam Nabi ﷺ.
Adapun ungkapan “Allāhumma kamā hassanta khalqī fa hassin khuluqī” (Ya Allah, sebagaimana Engkau memperindah penciptaanku, perindahlah akhlakku) dikenal luas sebagai doa, tetapi kualitas dan sumber riwayat khususnya perlu diperiksa sebelum dinisbatkan secara pasti sebagai hadis sahih.
Kita tidak akan mengetahui akhlak yang benar tanpa belajar. Ilmu memberi tahu apa yang Allah cintai, hak siapa yang harus ditunaikan, ucapan apa yang harus dijaga, dan bagaimana bersikap dalam keadaan sulit. Karena itu, teruslah hadir di majelis ilmu dan berusaha mengamalkan apa yang dipelajari.
Jangan mengatakan, “Saya memang sudah begini sejak lahir dan tidak bisa berubah.” Sikap demikian menutup pintu perbaikan. Pemateri mengingatkan ungkapan “al-hilmu bit-tahallum”, yakni sifat santun dan sabar dapat dilatih dengan membiasakan diri bersikap santun dan sabar. Ungkapan ini jangan dinisbatkan sebagai hadis Nabi ﷺ tanpa pemeriksaan sumber yang jelas.
Teman memiliki pengaruh besar terhadap perilaku. Apa yang diucapkan anak-anak kadang berasal dari lingkungan pergaulannya. Pada masa sekarang, pengaruh itu juga dapat datang dari gawai dan konten yang mereka konsumsi. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan lingkungan pertemanan dan penggunaan media.
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang mengikuti agama atau kebiasaan teman dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” HR. Abu Dawud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378; penomoran dapat berbeda menurut edisi.
Mulailah dengan kebaikan sederhana: menyambut suami dengan baik, membantu orang tua menyiapkan sandal, menyapa tetangga, mengelus kepala anak dengan kasih sayang, mendoakan keluarga, atau menurunkan nada suara ketika marah. Jangan meremehkan amal kecil.
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang ceria.” HR. Muslim no. 2626.
Akhlak orang tua menjadi contoh bagi anak-anak. Anak memperhatikan cara orang tua berbicara, marah, memaafkan, dan memperlakukan orang lain. Jika ingin anak terbiasa berbicara lembut, orang tua perlu mencontohkannya. Jika ingin anak menghormati orang tua, tunjukkan penghormatan kepada orang tua kita sendiri.
Jika suatu kali gagal bersabar atau kembali melakukan kebiasaan buruk, jangan menyerah. Bangkit kembali, bertaubat, berlatih lagi, dan memohon pertolongan Allah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhlak mulia dan menempatkan kita di surga yang tinggi.
Kutipan ulama yang disebut dalam kajian
العِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ
“Tidak ada sesuatu yang menyamai keutamaan ilmu bagi orang yang benar niatnya.”
Kutipan ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Penukilan serupa disebut dalam kitab Al-Adab asy-Syar‘iyyah karya Ibnu Muflih (2/37, menurut rujukan yang banyak dikutip). Inti penjelasannya: penuntut ilmu berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.
Penanya menceritakan bahwa anaknya suka berbicara keras dan membentak ibunya. Ia khawatir pengaruh pergaulan dan penggunaan telepon genggam lebih kuat daripada nasihat orang tua.
Jawaban pemateri: pertama, jangan meninggalkan doa. Doa adalah senjata utama orang tua, sebab hidayah berada di tangan Allah. Kedua, terus berikan nasihat. Tanggung jawab menasihati tidak berhenti ketika anak sudah dewasa atau menikah. Nabi ﷺ tetap membimbing putrinya Fatimah meskipun telah berumah tangga.
Pemateri mengisahkan contoh seseorang yang baru mulai menghafal Al-Qur’an ketika berusia lanjut, setelah teringat doa ibunya yang dahulu selalu memohon agar anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an. Kisah ini disampaikan sebagai pelajaran tentang pentingnya doa yang terus-menerus; rincian tokoh dan sumber kisah tidak disebutkan dalam rekaman.
Pemateri juga menyampaikan kisah tentang seorang anak yang pada masa mudanya memiliki perilaku buruk, tetapi kemudian memperoleh hidayah dan mendalami agama. Pelajarannya, orang tua tidak boleh tergesa-gesa berputus asa. Teruslah menasihati, mendoakan, dan memberi teladan yang baik. Doakan semua anak, termasuk anak yang sudah tampak saleh, bukan hanya anak yang sedang bermasalah.
Ketika anak berbicara keras, orang tua dapat menasihati dengan tenang dan mencontohkan nada bicara yang lembut. Hasilnya tidak selalu langsung terlihat, tetapi tugas orang tua adalah terus berusaha dan memohon taufik kepada Allah.
Penanya bertanya tentang tetangga yang tidak menjawab sapaan dan menolak makanan yang diberikan, meskipun penanya telah berusaha menjaga hubungan baik.
Jawaban pemateri: pertama, cari tahu penyebabnya. Bisa jadi pernah terjadi kesalahpahaman atau ada perilaku kita yang menyakiti tetangga, misalnya berkaitan dengan urusan lingkungan. Jika memang kita bersalah, akui kesalahan, perbaiki, dan mintalah maaf. Jangan selalu menganggap diri kita benar.
Jika ketidaksukaan tetangga muncul karena perbedaan dalam menjalankan agama, tetaplah berusaha menjaga hubungan baik. Cobalah memberi hadiah, menyapa lebih dahulu, dan membantu ketika ia memiliki kebutuhan. Jika pemberian ditolak, jangan menjadikan penolakan itu alasan untuk berhenti berbuat baik. Lakukan kebaikan karena Allah, bukan demi balasan.
Jika tetangga tetap memilih diam, kita tetap dapat menjaga adab dan menunaikan kewajiban yang mampu kita lakukan. Kita tidak bisa memaksa orang lain membalas kebaikan, tetapi kita bertanggung jawab atas sikap kita sendiri. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Majelis ditutup dengan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Semoga Allah memberkahi ilmu yang dipelajari, memperbaiki akhlak kita, menjadikan keluarga kita keluarga yang saleh, dan menganugerahkan surga Firdaus dengan rahmat-Nya. Āmīn.

*****
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |