Jumat, 5 Juni 2026

Terbit : Rab, 20 Mei 2026

Puasa 9 Hari Awal Dzulhijjah

Oleh : Takmir Masjid Baiturrohim Artikel Islam / Fikih
Puasa 9 Hari Awal Dzulhijjah

Dari hadits sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud, no. 2438, At Tirmidzi, no. 757, dinilai sebagai hadits shahih oleh ahli hadits Al Albani)

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“.

Nabi Terbiasa Berpuasa 9 Hari Awal Dzulhijjah

Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram) dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (di tgl 13, 14 dan 15 pada bulan Islam)…” (HR. Abu Dawud no. 2437, dan an-Nasaa’i no. 2372 & 2417, Ahmad no. 2269 dan juga al-Baihaqi IV/284, Shahiih Sunan Abi Dawud no. 2106)

Sahabat Nabi ﷺ yang mempraktekkan puasa sunnah selama 9 hari awal bulan Dzulhijjah adalah Abdullah bin Umar. Di antara ulamanya tabi’in seperti al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin serta Qotaadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut, & inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama” (lihat Kitab Lathaa-iful Ma’aarif hal 461)

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف

Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun“. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

Minimal Puasa Arafah – 9 Dzulhijjah

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

Puasa Tak Terbatas Pahalanya

Karenanya kita dianjurkan sekali memperbanyak amalan shalih termasuk puasa, inilah poin utamanya, karena amalan puasa itu pahalanya tak terbatas, Allah Ta’ala yang akan membalas dan mengganjarnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Siapa membawa amal baik, maka baginya sepuluh kali lipat pahala” (QS. Al-An’am: 160)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab tafsir beliau,

هذا أقل ما يكون من التضعيف

“Pelipatan sepuluh kali lipat ini, adalah pelipatan minimal setiap amal…” (lihat Kitab Taisir Karimir Rahman, pada tafsiran ayat di atas).

Ada yang berutung mendapatkan kelipatan pahala lebih dari itu, yaitu sampai 700 kali lipat bahkan lebih, tergantung pada kualitas ibadahnya.

Menariknya untuk puasa, kelipatan pahalanya tak terbatasi angka. Rasulullah shallallahu ’alahiwa sallam mengabarkan,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Setiap amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat ganjaran, hingga sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa. Pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Bukhari, 1904, 5927 dan Muslim, 1151)

Menggabungkan Niat 2 Puasa Sunnah

Masalah ini para ulama menyebutnya sebagai “AtTadaakhul fil ‘ibaadaat” (saling bercampurnya antara banyak ibadah –yang jenis ,waktu dan sifat amalannya sama – ) , atau sebagian mereka juga menyebutnya “AtTasyriik fi anniiyah” ( Kebersamaan -banyak amalan yang satu jenis, waktu dan sifat- dalam satu niat). Dalil dari kaidah ini adalah berdasarkan pengkajian dan penelitian terhadap dalil-dalil AlQuran dan Hadis.

Kaidah dalam masalah ini adalah “Jika dua amalan ibadah berasal dari jenis yang sama , sifat atau cara amalannya sama, dan waktu pelaksanaanya juga sama, maka keduanya bisa dilakukan dengan hanya melakukan satu amalan saja”. Ini merupakan cabang dari salah satu kaidah utama dalam Kaidah Fiqh ; “Al-Umuur bi Maqaashiidihaa” (suatu perkara –baik berupa amalan atau ucapan- tergantung pada tujuannya –atau niatnya- ).

Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata (Al-Qawaa’id fil Fiqh: hal.23) ; “Jika dua ibadah dari jenis yang sama berkumpul dalam waktu yang sama, yang mana salah satunya tidak dilakukan sebagai qadha atau sebagai tab’iyyah / ibadah yang mengikuti ibadah lainnya dalam waktu (seperti rawaatib -pent) , maka amalan-amalan keduanya saling berkaitan sehingga cukup melakukan keduanya dengan satu amalan saja”.

Syaikh AbdurRahman AsSa’di rahimahullah berkata (AlQawaa’id Wal-ushul Al-Jami’ah (90) ; “Jika dua ibadah dari jenis yang sama berkumpul, maka amalan-amalan keduanya saling berkaitan, sehingga cukup melakukan keduanya dengan satu amalan saja jika maksud kedua ibadah tersebut sama”.

Dalam Al Asybaah Wa An-Nadzhoir (1/208) ,Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah juga berkata ; “Jika dua perkara ibadah dari jenis yang sama berkumpul ,sedangkan maksud dari keduanya tidaklah berbeda, maka kebanyakan amalan salah satunya masuk kedalam amalan lainnya “.

Maka, jika puasa awal dzulhijjah ini diniatkan juga untuk melakukan puasa sunnah Senin atau Kamis, maka InshaAllah tidak masalah. Maka dengan melaksanakan satu kali puasa dihari Senin atau Kamis ini, ia telah mendapatkan dua pahala sekaligus jika ia meniatkan puasanya untuk puasa senin atau kamis sekaligus awal Dzulhijjah.

*****

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Baiturrohim
JL. Matoa II No. 15 Karangasem Laweyan Surakarta
Luas Area245 m2
Luas Bangunan240 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2005
  • 10 Awal Dzulhijjah merupakan hari-hari terbaik untuk beramal, maka perbanyaklah amal shalih!