Jumat, 5 Juni 2026

Terbit : Rab, 20 Mei 2026

Meneladani Ukhuwah para Sahabat Nabi ﷺ

Oleh : Takmir Masjid Baiturrohim Muamalah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📚┃ Materi : Menepis Ego, Menjalin Sinergi: Meneladani Ukhuwah para Sahabat Nabi ﷺ.
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mahyani Devi, Lc. Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Rabu , 20 Mei 2026 M / 03 Dzulhijjah 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Baiturohim – Bulakindah Karangasem.

Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu dalam Meneladani Ukhuwah para Sahabat Nabi ﷺ.

Kita masuk bulan Dzulhijjah, dimana di dalamnya ada ibadah haji, yang salah satu hikmahnya adalah memperkuat Persaudaraan Islamiyah. Kebersamaan dan persaudaraan karena persamaan akidah, bukan karena bisnis, keturunan atau alasan dunia lainnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

عَنِ الْبَرَاءِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا».
[صحيح بمجموع طرقه] – [رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وأحمد] – [سنن أبي داود: 5212]

Al-Barā` -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan, kecuali akan diampuni dosa mereka berdua sebelum keduanya berpisah.”

[Sahih berdasarkan semua jalurnya] – [HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad] – [Sunan Abī Dāwūd – 5212]

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tidaklah dua orang muslim bertemu di jalan dan semisalnya lalu salah satunya mengucapkan salam kepada yang lain sambil berjabatan tangan kecuali keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah badan atau selesai berjabatan tangan.

Ukhuwah Islamiyah adalah prinsip hidup seorang muslim, hingga Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya shalat berjama’ah yang merupakan esensi ukhuwah.

Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat wajib berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat’ (Shahih. HR. al-Bukhari).

Bahkan pada saat berperang, kita diperintahkan untuk selalu shalat berjama’ah. Apalagi disaat damai.

Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendirikan shalat berjamaah dalam kondisi ketakutan karena peperangan,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (QS. An-Nisa’ [4]: 102)

Allah ﷻ juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 10:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Bisik-bisik sebenarnya dilarang, kecuali dalam hal kebaikan: bersedekah, amar makruf dan mendamaikan manusia.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 114:

۞ لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Bisik-bisik yang tercela dijelaskan pada Surat Al-Mujadalah Ayat 10:

إِنَّمَا ٱلنَّجْوَىٰ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ لِيَحْزُنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَيْسَ بِضَآرِّهِمْ شَيْـًٔا إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.

Agar Tercapai Ukhuwah Islamiyah

1. Ukhuwah hanya akan tercapai jika hatinya bersih.

Hingga Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

2. Ikhlas karena Allah ﷻ

Ikhlas menjadi amalan terberat karena menuntut pemurnian niat semata-mata untuk Allah, tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk kepentingan atau pengakuan diri (pujian manusia). Hati manusia secara alami cenderung ingin dihargai, sehingga menjaga keikhlasan sering kali memerlukan perjuangan melawan ego sendiri.

3. Menghilangkan Ego Sentris

Yaitu Melihat kebenaran dari sudut pandang sendiri.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Keberhasilan suatu dakwah tidak ditentukan oleh seorang diri tapi kebersamaan yang dibangun secara sinergi.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR Muslim).

Jika setiap individu menyadari perannya masing-masing maka akan terjalin kebersamaan yang harmonis.

Penyakit hati kita inilah yang menjadi penyebab rusaknya kebersamaan. Jika kita sadar diri, dan mengobati penyakit hati maka sumber utama kerusakan akan segera terobati.

Obat hati (penawar batin) yang terdiri dari 5 perkara. Kelima perkara tersebut adalah:

  1. Membaca Al-Qur’an dan merenungi (tadabbur) maknanya.
  2. Mendirikan shalat malam (tahajud).
  3. Berkumpul dengan orang-orang saleh (bergaul dengan lingkungan yang baik).
  4. Memperbanyak puasa.
  5. Memperbanyak dzikir malam.

Agar perselisihan tidak menjadi semakin besar maka hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Jangan biarkan orang yang tidak berkepentingan ikut campur.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Hujurat Ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

2. Hilangkan sifat hasad. Sifat ini bisa diobati dengan:

  • Jika kita iri dengan orang, ingatlah kebaikan orang tersebut.
  • Ingatlah kesalahan diri kita kepadanya.
  • Ingatlah akan beratnya pengadilan akhirat.

3. Ingatlah dan tunaikan hak sesama muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).”

(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kita hati yang bersih dan sehat, agar selalu tercipta Ukhuwah Islamiyah dalam bingkai iman dan taqwa. Aamiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Masjid Baiturrohim
JL. Matoa II No. 15 Karangasem Laweyan Surakarta
Luas Area245 m2
Luas Bangunan240 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2005
  • 10 Awal Dzulhijjah merupakan hari-hari terbaik untuk beramal, maka perbanyaklah amal shalih!