
Kita semua ingin agar hidup kita diberkahi oleh Allah Ta’ala, makanya setiap kali kita bertemu dengan saudara kita sesama muslim, kita dianjurkan untuk mengucapkan salam:
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Semoga keselamatan, rahmat Allah Ta’ala, dan keberkahan-Nya tercurah untuk Anda.
Karena memang setiap kita butuh kepada keberkahan.
Nah, bagaimana kiat-kiat menggapai keberkahan dalam hidup? Inilah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.
Keberkahan adalah:
الخَیْرُ الکَثِیرُ الدَّائِمُ
“Yaitu kebaikan yang melimpah dan langgeng secara terus-menerus.”
Dalam bahasa Arab ada kata yang disebut dengan birkah ( بركة) artinya kolam, disebut demikian karena banyaknya air di dalamnya.
Jadi, Barakah secara bahasa berkembang dan bertambah. Yaitu kebaikan yang banyak melimpah dan terus menerus. [Lihat Al-Qamus Al-Muhith oleh al-Fairuz Abadi 3/293, Lisanul Arab leh lbnul Mandzur 10/395].
Sesungguhnya Tabarruk atau yang biasa disebut dengan ngalap berkah ada dua:
Pertama; Tabarruk masyru’ yaitu tabarruk dengan hal-hal yang disyari’atkan seperti Al-Qur’an, air zam-zam, bulan Ramadhan dan sebagainya. Akan tetapi tidak boleh bertabarruk dengan hal-hal tersebut kecuali seizin syari’at, sesuai petunjuk Nabi ﷺ dan dengan niat bahwa hal itu hanyalah sebab, sedangkan yang memberikan barakah adalah Allah Ta’ala, sebagaimana kata Nabi ﷺ:
الْبَرَكَةُ مِنَ اللهِ
“Barakah itu (bersumber) dari Allah Ta’ala” [HR. Bukhari 3579].
Mencari keberkahan melalui sesuatu yang telah ditetapkan oleh dalil keberkahannya baik waktu, tempat atau orang.
Contoh keberkahan waktu; Bulan Ramadhan.
Dalam hadits disebutkan:
فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى
“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari n. 1863).
Contoh keberkahan tempat; Masjidil Haram dan Nabawi.
Dalam hadits disebutkan bahwa shalat di Masjidil Haram lebih baik 100.000 kali lipat dan di Masjid Nabawi lebih baik 1.000 kali lipat dibanding masjid-masjid selain keduanya.
عَنِ اِبْنِ اَلزُّبَيْرِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا اَلْمَسْجِدَ اَلْحَرَامَ , وَصَلَاةٌ فِي اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ
Dari Ibnu Az-Zubair bahwa Rasulullah ﷺ shallAllah Ta’alau ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram dan sekali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali shalat di masjidku ini.” (Diriwayatkan leh Imam Ahmad, hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Ahmad, 26:41-42; Ibnu Hibban, 1620. Sanad hadits ini sahih].
Contoh keberkahan orang; Nabi ﷺ Muhammad.
Bahkan Allah Ta’ala meletakkan keberkahan pada dzat beliau, makanya dulu para sahabat rebutan sisa wudhu Nabi ﷺ, beliau pernah meludah ke mata sahabat Ali bin Abi Thalib yang sakit lalu sembuh.
Aisyah berkata tentang Juwairiyyah: “Saya tidak mengetahui wanita yang lebih banyak berkahnya bagi kaumnya daripada Juwairiyyah“. [Sunan Abu Dawud: 2931 dan Ahmad: 26365].
Kedua; Tabarruk Mamnu’ yaitu tabarruk dengan hal-hal yang dilarang leh syariat, atau melampui batas dan tidak ada sandarannya dalam syariat, maka ini tidak boleh, seperti tabarruk dengan phn, batu ajaib, kuburan’, dzat kyai dan lain sebagainya.
Jenis tabarruk ini telah diingkari secara keras oleh para ulama, terutama ulama Syafi’iyyah. Menarik sekali dalam masalah ini apa yang dikisakan bahwa tatkala ada berita sampai kepada telinga Imam Syafi’i bahwa sebagian orang ada yang bertabarruk dengan peci Imam Malik, maka serta merta beliau mengingkari perbuatan itu. [Lihat Manaqib Syafii 1/508 leh al-Baihaqi dan Syarh Arba’in Al-‘Ajluniyyah hlm. 262-263 leh Syaikh Jamaluddin al-Qsimi].
Jenis tabarruk terlarang ini sangat berbahaya sekali karena menimbulkan dampak negatif yang amat berbahaya dan banyak, di antaranya:
[At Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu hlm. 343-348 leh Dr. Nashir Al-Juda’i].
****
Bila kita ingin keberkahan dalam hidup kita baik ilmu, harta, keluarga, usia, rumah tangga, tahta dan lain sebagainya, maka hendaknya bagi kita melakukan kiat-kiat menggapainya seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berikut di antaranya:
Kunci keberkahan adalah niat yang Ikhlas untuk Allah Ta’ala.
إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا
“Bila Allah Ta’ala mengetahui kebaikan di dalam hati kalian, niscaya Allah Ta’ala akan memberikan kebaikan yang banyak.” (QS. AI-Anfal: 70)
Meluruskan niat adalah hat yang sangat penting dalam menggapai keberkahan hidup, di antara nasehat indah Imam Ahmad bin Hanbal kepada putranya adalah:
يَا بُنَيَّ انْوِ الْخَيْرَ فَإِنَّكَ لَا تَزَالُ بِخَيْرٍ مَا نَوَيْتَ الْخَيْر
“Wahai anakku, niatkanlah kebaikan, karena engkau akan senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau berniat baik.” [Al Adab Syar’iyyah 1/104 karya lbnu Muflih dan beliau mengatakan: “Ini merupakan wasiat yang amat agung”].
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Aku wasiatkan kepada kalian agar berniat yang baik, karena niat yang baik merupakan sumber semua kebaikan”.” [Haditsul Masa’hum. 36].
Sebaliknya, jika niat kita rusak, maka Allah Ta’ala akan cabut keberkahan-Nya. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan
“Segala sesuatu apabila tidak diniatkan karena Allah Ta’ala, maka akan dicabut keberkahannya.” [Al Jawabul Kaafi hlm. 85].
Hal-hal yang mungkin terlihat sepele, keti ka niatnya karena Allah Ta’ala maka akan jadi keberkahan. Contoh nyatanya adalah Imam Bukhari Rahimahullah yang termotivasi menulis kitab Shahih hanya karena satu kalimat singkat gurunya yaitu Ishaq bin Rahawaih Rahimahullah, dalam suatu ka jian lshaq bin Rahawaih mengatakan di hadapan para murid beliau: “Andai seserang di antara kalian mengumpulkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah ﷺ.” Maka lahirlah Shahih Bukhari yang merupakan kitab paling shahih setelah Al-Qur’an.
Hal semacam ini juga terjadi pada Imam Adz Dzahabi Rahimahullah, suatu ketika guru beliau Al-Barzali mengatakan: “Tulisanmu mirip dengan tulisan para ahli hadits.”. Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah berkata: “Hal itulah yang memtivasi saya belajar hadits.” [Ad Durar Al Kaminah, lbnu Hajar 1/423].
Takwa adalah mengerjakan perintah-perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan Nya dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tun tunan Nabi ﷺ). Allah ﷻ menegaskan dalam Al Qur’an:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A’raf: 96)
Kunci keberkahan dari langit dan bumi adalah ketakwaan, maka hendaknya kita menanamkan ketakwaan di mana pun kita berada, terutama saat kita sendirian, saat kita jauh dari pandangan manusia.
Contohnya adalah Saudi Arabia, negara yang tandus dan gersang tidak ada tanaman, namun buah apa saja ada di sana, bahkan belajar ada gajinya. lni berbanding terbalik dengan negara-negara yang sebenarnya memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah tapi tidak diberkahi oleh Allah Ta’ala.
Ibnu Rajab Rahimahullah berkata: “Apabila ilmu tersebar di bumi dan diamalkan maka akan mengalir keberkahan dan akan turun rezeki, sehingga penduduk bumi hingga semut dan hewan lainnya hidup dengan keberkahannya”. [Majmu’ Rasail lbnu Rajab 1/30].
Dalam Musnad Ahmad disebutkan bahwa dalam sebagian gudang Bani Umayyah ada biji-bijian, satu biji sebesar biji kurma, di karungnya tertulis: Ini tumbuh di zaman keadilan.” [Al Jawabul Kaaji hlm. 65].
Pernah ditanyakan kepada serang shalih: Harga-harga melambung tinggi, maka beliau menjawab: “Berusahalah menurunkan harga-harganya dengan cara taqwa.”
Al-Qur’an adalah barakah, Allah Ta’ala berfirman:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ
“Ini adalah kitab Al-Qur’an yang Kami turunkan kepadamu wahai Muhammad, yang diberkahi.” (QS. Shad: 29)
Maka ketika kita mengisi hari-hari kita dengan Al-Qur’an maka hari-hari kita jadi berkah. Seba gian ahli tafsir mengatakan: “Kami sibuk dengan Al-Qur’an, maka Al-Qur’an membanjiri kami de ngan keberkahan.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]
Semua yang berkaitan dengan Al-Qur’an akan menjadi yang terbaik. Allah Ta’ala turunkan Al-Qur’an kepada Nabi ﷺ Muhammad ii maka beliau men jadi nabi terbaik, Allah Ta’ala turunkan lewat peranta ra Jibril maka Jibril jadi malaikat terbaik, Allah Ta’ala turunkan di bulan Ramadhan maka Ramadhan menjadi bulan terbaik.
Rumah yang dibacakan Al-Qur’an akan diberkahi, makanya setan akan lari dari rumah tersebut.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim no. 1860)
Rumah yang dibacakan Al-Qur’an akan ber cahaya, disebutkan dalam hadits bahwa rumah tersebut akan terlihat leh malaikat seperti bin tang bercahaya di langit.”
Di antara keberkahan Al-Qur’an adalah ganja ran yang besar bagi pembacanya, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ”
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).
Di antara berkah Al-Qur’an juga, Al-Qur’an adalah obat.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ
“Dan Kami turunkan dari Al-ur’an suatu yang menjadi penawar (obat) … “ (QS. Al-lsra: 82)
Al-Qur’an menjadi bat tidak hanya untuk penyakit hati tapi bisa juga untuk penyakit fisik.
Rasulullah ﷺ juga bersabda mengenai keberkahan Al-Qur’an:
عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ رواه مسلم
Dari Abu Umâmah al-Bâhili Radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bacalah surah al-Baqarah, karena sesungguhnya selalu menetapinya mendatangkan keberkahan, sedangkan meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan, dan para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya. [HR. Muslim no. 804]
Yakni rajin membaca Al-Qur’an dan menga malkannya adalah keberkahan dan manfaatnya besar. [Lihat Faidhul Qadir 2/66 dan Mirqatul Mafatih 6/1460].
Menyambung silaturahmi akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur (memberkahi umur).
عن أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ:((مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ))، أخرجه البخاري.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturrahminya (dengan kerabat).” [Hadis ini dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari (5985), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (7571)].
Jadikan silaturahmi seperti saat hari raya sebagai kesempatan untuk bisa mengenal sahabat-sahabat bapak atau sahabat-sahabat ibu kita, karena hal tersebut termasuk bentuk berbakti kepada orang tua.
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya bakti yang paling agung adalah serang anak menyambung silaturahmi dengan sahabat ayahnya.”
Jangan sampai kita menganggap silaturahmi hanya ajang untuk menghabiskan uang, justru silaturahmi menjadikan hidup kita lebih berkah.
Allah Ta’ala berfirman:
فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةًۗ
“Maka apabila kalian memasuki rumah-rumah, ucapkanlah salam pada diri kalian sebagai ucapan selamat dari sisi Allah Ta’ala yang diberkahi lagi baik.” (QS. An-Nur: 61)
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قاَلَ لِي رَسُوْلُ اللهِ يَا بُنَيَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anakku, apabila engkau masuk kepada keluargamu, maka hendaklah mengucapkan salam. Pasti itu menjadi berkah bagimu dan bagi keluarga rumahmu.” (HR. Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Tirmidzi, no. 2698. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguat].
Jangan sampai kita meremehkan mengucapkan dan menyebarkan salam, karena menyebarkan salam merupakan salah satu penyebab kita masuk surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ
“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di waktu malam saat manusia lelap tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” [HR. Tirmidzi: 2485 dan lbnu Majah: 1334].
Mengucapkan salam juga bisa menghapus dosa-dosa kita, Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).
Di antara ganjaran menyebarkan salam adalah menjadikan kita saling menyayangi. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوا حَتىَّ تحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَئٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحاَبَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَم بَيْنَكُم” رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak disebut beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian pasti saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 54]
Maka mari kita sebarkan salam di antara kita, ini jauh lebih baik daripada kalimat hal, atau bunyi klakson untuk sapaan.
Senantiasa meminta agar Allah ﷻ menjadi kan kita diberkahi di manapun kita berada, se bagaimana ucapan Nabi ﷺ Isa :
وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ
“Dan Dia menjadikanku diberkahi di mana pun aku berada.” (QS. Maryam: 31)
Dalam banyak do’a, kita dianjurkan untuk meminta keberkahan, seperti dalam do’a qunut:
وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ
“Dan berkahilah aku pada apa yang telah Engkau berikan kepadaku.”
Allah ﷻ berikan ilmu, semga ilmu itu diberkahi. Allah Ta’ala berikan kesehatan, semga kesehatan itu diberkahi. Dan semua nikmat lainnya yang Allah ﷻ berikan, semga Allah Ta’ala berkahi.
Nabi ﷺ juga mengajarkan kita untuk mendo’akan orang yang menikah dengan do’a meminta keberkahan:
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَّأَ الْإِنْسَانَ إِذَا تَزَوَّجَ، قَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan selamat kepada seseorang ketika menikah, beliau mengucapkan, “BAARAKALLAAHU LAKA WA BAARAKA ‘ALAIKA WA JAMA’A BAINAKUMAA FII KHAIRIN.” (Semoga Allah memberkahimu dan senantiasa memberkahimu; dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.)”
(HR. Ahmad, 14: 517-518; Abu Dawud no. 2130; At-Tirmidzi no. 1091; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, 9: 107; Ibnu Majah no. 1905; dan Ibnu Hibban, 9: 359. Hadis ini sahih.)
Demikian juga dalam do’a istikharah:
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (sebutkan keperluannya di sini) خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْري (أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ
Allâhumma in kunta ta’lamu anna hâdzal amra (sebutkan urusannya) khairun lî fî dînî wa ma’âsyî wa ‘âqibati amrî (aw qāla: ‘âjili amrî wa âjilihī) faqdur-hâ lî wa yassir-hâ lî tsumma bârik lî fîh.
Artinya:
“Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku dalam agama, kehidupanku, dan kesudahan urusanku (atau ‘[Allah berfirman]: di dunia dan akhirat’), maka takdirkanlah ia bagiku, mudahkanlah jalannya, kemudian berkahilah aku di dalamnya.” [HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah].
Begitu juga, salah satu do’a setelah makan yang diajarkan Nabi ﷺ :
الْحمْدُ لِلهِ حَمْدًا گَثِیرًا طَیِّبًا مُبَارَگًا فِیهِ
“Segala puji bagi Allah Ta’ala dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya.”” [HR. Tirmidzi: 3451 dan dishahihkan Al Albani].
Nabi ﷺ juga pernah mendo’akan salah seorang sahabat yaitu Anas bin Malik dengan do’a keberkahan:
اللهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَأَطِلْ عُمْرَهُ
“Ya Allah Ta’ala, perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya.” [HR. Muslim: 2480].
Maka hendaknya kita sering-sering kita mendo’akan teman-teman kita dengan keberkahan.
Dari Abu Darda’ dan Ummu Darda aus Nabi pernah bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ.
“Tidaklah seorang hamba muslim mendo’akan saudaranya tanpa sepengetahuannya, kecuali
malaikat berkata: ‘Dan untukmu juga seperti itu” [HR. Muslim: 2732].
Hendaknya bagi kita untuk mendo’akan saudara kita, karena do’a adalah tanda cinta yang paling tulus. Uniknya, hadits ini dipraktekkan oleh perawi hadits yaitu sahabat Abu Darda’ tatkala mengatakan: “Sungguh aku selalu memohonkan ampunan dalam sujudku untuk tujuh puluh saudara-saudaraku. Aku sebut nama-nama Bapak mereka satu per satu”. [Syiar A’lam nubala 9/55).
Perbanyaklah do’a meminta keberkahan terutama di waktu-waktu yang mustajab, seperti antara adzan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, jum’at sore dan saat turun hujan.
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Hendaknya bagi seorang manusia untuk selalu berdo’a agar Allah Ta’ala menjadikannya selalu diberkahi di manapun berada baik dalam ucapannya maupun perbuatannya sehingga kebaikan selalu menyertainya”. [At-Ta’liq ’alaa Muntaqa 3/124]
Dengan istighfar, Allah Ta’ala akan memberkahi hidup kita. Allah Ta’ala e berfirman:
(10) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (11) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (12) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku (Nuh) berkata, (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)
Perlu diketahui bahwa ketika beristighfar berarti kita meminta dua hal: ditutupinya aib di dunia dan dimaafkannya dosa agar terbebas dari azab di akhirat.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah:
الاِسْتِغْفَارُ أَهَمُّ مِنْ جَمِيع الْأَدْعِيَةِ
“Istighfar itu lebih penting (urgen) daripada seluruh do’a-do’a yang dipanjatkan.” [Jami’ul Masail 6/277].
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ
“Dan apa pun yang kalian infakkan di jalan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pasti akan menggantinya.”(QS. Saba’:39)
Apa yang kita keluarkan untuk disedekahkan pasti Allah Ta’ala ganti, maka sedekah tidak akan mengurangi harta kita. Nabi ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَهُ مِنْ مَالٍ
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” [HR. Muslim: 2588].
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidak ada suatu hari pun ketika hamba melewati pagi hari, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lain berkata: ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (kerusakan/kebangkrutan) bagi orang yang menahan hartanya (kikir).’” [HR. Bukhari: 1442 dan Muslim: 1010].
rang yang berinfak maka dia akan did’akan keberkahan leh para malaikat pada hartanya. Dengan sedekah, harta justru bertambah dan se makin berkah. Makanya kita tidak perlu khawatir ketika berinfak di jalan Allah Ta’ala yakinlah Allah Ta’ala akan ganti dengan yang lebih baik, baik di dunia dan akhirat.
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Hendaknya serang tatkala menyalurkan hartanya di jalan yang diridhai leh Allah Ta’ala untuk yakin dan ptimis dengan janji Allah Ta’ala dalam kitabnya bahwa Allah Ta’ala akan menggantinya”. [Syarh Riyadh Shalihin 3/401].
Maka hendaknya kita bersemangat dalam ber sedekah, karena sedekah menunjukkan kejujuran iman seserang, dan tentunya ini sesuai kadar kemampuan masing-masing.
فَانَقُوا اُللَهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kalian kepada Allah ﷻesuai kemampuan kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)
Nabi ﷺ berdo’a:
اللهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah Ta’ala, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Hadits ini dipraktekkan oleh perawinya yaitu Sakhr bin Wada’ah yang merupakan seorang pedagang, beliau memulai bisnisnya di pagi hari sehingga meraih keuntungan yang banyak.” [HR.Abu Dawud: 2606].
Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waktu pagi dikhususkan dengan keberkahan karena waktu pagi adalah waktu semangat dan energinya masih full. [Fathul Bari 6/114].
Maka hendaknya kita gunakan waktu pagi untuk melakukan kebaikan-kebaikan, baik dengan bekerja, belajar dan lain sebagainya dari kegiatan yang positif. Jangan jadikan waktu pagi hanya untuk tidur dan scrol hp tiada henti, atau rebahan penuh kemalasan, sehingga kita tidak bisa memaksimalkan waktu yang diberkahi.
Meluangkan waktu untuk duduk dalam majelis ilmu dan taman surga menyebabkan ketenangan hati dan keberakahan. Nabi ﷺ bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بَيُوْتِ اللَّهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللًّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَ بَيْنَهُم إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللُّه فِيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Ta’ala untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah Ta’ala akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk di sisi-Nya.”
Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa ada malaikat-malaikat yang diutus mencari majelis majelis ilmu yang kemudian dilaprkan kepada Allah Ta’ala (Dan Allah Ta’ala lebih tau), lalu Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah ampuni mereka.” [HR. Bukhari: 6408].
Kemudian ada malaikat yang mengatakan: “Ya Allah, di majelis ilmu tersebut ada hamba yang banyak melakukan do’a dia hanya lewat lalu duduk bersama mereka.”
Maka Allah ﷻ menjawab:
وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ
“Untuknya aku telah mengampuni, Mereka ada lah suatu kaum yang teman duduknya tidak akan sengsara (meski hanya sekadar menumpang duduk).”
Ini menunjukkan keberkahan majelis ilmu, yang mana tidak ada yang merugi ketika berkumpul di majelis ilmu.
Ada kisah menarik dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah saat memberi kajian ilmu di majelis. Suatu hari di majelis syaikh Shalih al Utsaimin, ada serang lelaki yang terlihat tidak memahami apa yang disampaikan Syaikh, Maka beliau bertanya kepada lelaki tersebut, “Wahai fulan, apakah engkau faham apa yang saya sampaikan?”
lelaki itu menjawab, “Tidak wahai syaikh” Syaikh kembali bertanya, “Lalu untuk apa kau hadir di majelis ini?”
Lelaki itu menjawab, “Karena Rasulullah ﷺ bersabda: “Mereka (Para penuntut ilmu) adalah kaum yang tidak akan sengsara rang yang duduk bersama mereka”
Syaikh ‘Utsaimin pun menangis, Kemudian beliau berkata, “kita datang untuk mengajarkan nya, namun dia yang mengajarkan kita”
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya termasuk tanda keberkahan seserang adalah menebarkan kebaikan kepada yang lain dan me nasehati siapapun yang berkumpul dengannya di manapun berada”.” [Risalah lbnul Qayyim Ila Ahadi lkhwanihi hlm. 3].
Kejujuran adalah sumber kebaikan dan ke dustaan adalah sumber keburukan. Maka mari kita biasakan jujur dalam hidup kita, terutama dalam jual beli. Nabi ﷺ bersabda:
الْبَيِّعانِ بالخِيارِ ما لَمْ يَتَفَرَّقا، فإنْ صَدَقا وبَيَّنا بُورِكَ لهما في بَيْعِهِما، وإنْ كَذَبا وكَتَما مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِما.
“Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (aib), maka akan diberkahi jual beli mereka. Namun jika menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihilangkan keberkahan jual beli mereka.” [HR. Bukhari: 1947].
Wahai saudaraku yang pedagang, pengusaha dan pegawai, jujurlah dalam profesi kalian, agar harta dan hidup kalian diliputi keberkahan. Jangan hanya silau dengan godaan harta haram, lebih baik tangan dan baju kita ktr namun penghasilan kita bersih, daripada tangan dan baju kita bersih namun penghasilan kita kotor.
Di antaranya adalah madu, Nabi ﷺ is bersabda:
عليكم بالشفاءين: العسل والقرآن
“Hendaknya kalian berobat dengan dua hal penyembuh: madu dan Al-Qur’an.” [HR. Al Hakim: 8275].
Demikian juga dengan zaitun, Nabi ﷺ bersabda:
كُلُوا الزَّيْتَ وَادْهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ
“Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah kalian dengannya, karena ia berasal dari phn yang diberkahi.” [HR. Tirmidzi: 1851].
Demikian juga dengan air zam-zam, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّهَا مُبَارَكَةُ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْم
“Sesungguhnya air zam-zam itu diberkahi, dan ia adalah makanan yang mengenyangkan.” [HR. Muslim: 1473].
Contoh dalam masalah puasa, Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بخَيْرِ مَا عَجَّلُوا الْفِظْرَ وأخَّرُوا السُّحورَ
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” [HR. Bukhari no. 1923, Muslim no. 1095]
Keberkahan sahur banyak sekali, di antaranya:
Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata: “Dalam mengikuti sunnah memiliki banyak manfaat: keberkahan sesuai dengan syari’at, mendapatkan ridha Allah Ta’ala, meninggikan derajat, ketentraman hati dan badan, menyedihkan Syetan dan menmpuh jalan yang lurus”. [Dzammul Muwaswasin hlm. 41].
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Rahimahullah berkata: “Latihlah dirimu untuk terbiasa mempraktekkan sunnah Nabi ﷺ karena di dalam sunnah Nabi ﷺ terdapat keberkahan”. [Kajian Syarah Ighatsatu Lahfan 1/11/1436].
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Referensi: E-book Kiat Menggapai Hidup Berkah – Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi Hafidzahullah
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |