Jumat, 12 Juni 2026

Terbit : Rab, 10 Juni 2026

Mengapa Kita saling Menyakiti dan Merasa Sendirian?

Oleh : Takmir Masjid Baiturrohim

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

📚┃ Materi : Mengapa Kita saling Menyakiti dan Merasa Sendirian?
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mahyani Devi, Lc. Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Rabu , 10 Juni 2026 M / 24 Dzulhijjah 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Baiturohim – Bulakindah Karangasem.

Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.

Kalau kita melihat berita terutama melalui media sosial, maka kita tidak akan pernah berhenti melihat banyaknya berita yang mengurut dada, baik dalam hal kasus pembunuhan, perampasan, pemerkosaan, korupsi, perusakan hutan dan perilaku kegelapan lainnya.

Maka, terkadang kita merasa sendirian di tengah hiruk pikuk kehidupan. Jika kita telisik, maka akan ada dua penyebab:

1. Penyakit penindasan

Dimana di dalamnya ada perilaku kedzaliman. Padahal Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan dalam sabdanya:

ِاتَّقوا الظُّلمَ . فإنَّ الظُّلمَ ظلماتٌ يومَ القيامةِ

“Jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2447, Muslim, no. 2578).

Dalam hal ini, ada dua kelompok:

  1. Kelompok pendindas dan dia merasa kuat dan selalu merasa menang.
  2. Kelompok yang lemah, tidak ada keberanian untuk melawan. Dan dia akan selalu ditindas.

Bahkan Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu pernah berdo’a: berlindung dari lemahnya orang yang bertakwa.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, Beliau mengingatkan bahwa kebenaran atau kebaikan yang tidak terorganisasi dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan atau kejahatan yang terorganisasi dengan rapi.

2. Penyakit keterasingan

Yaitu penyakit individualis. Keterasingan di tengah keramaian. Hal ini akan merusak sendi-sendi hubungan hati.

Akhirnya, setiap orang akan memikirkan dirinya sendiri, tanpa berusaha berkomunikasi dengan orang lain.

Dia akan tidak percaya dengan orang lain yang akhirnya akan terjerumus kepada pergaulan yang tidak sehat.

Pada akhirnya, untuk mengobati kesepiannya, dia berusaha dengan obat-obatan yang adiktif, hatinya akan selalu curiga kepada orang lain dan disibukkan dengan pemenuhan hawa nafsunya.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Setidaknya ada dua alasan:

1. Hilangnya suri tauladan yang nyata.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Taubah ayat 19:

اَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاۤجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ لَا يَسْتَوٗنَ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۘ ۝١٩

Apakah kamu jadikan (orang yang melaksanakan tugas) pemberian minuman (kepada) orang yang menunaikan haji dan mengurus Masjidilharam sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di hadapan Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.

Sabda Rasulullah ﷺ:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُر أَحَدُكُم مَنْ يُخَالِل».
[حسن] – [رواه أبو داود والترمذي وأحمد] – [سنن أبي داود: 4833]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat.”
[Hasan] – [HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Ahmad] – [Sunan Abī Dāwūd – 4833]

Sabda Nabi ﷺ :

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأضَلُّوا».
[صحيح] – [متفق عليه]

Dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Āṣ -raḍiyallāhu ‘anhumā-, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari (dada) manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang pun yang berilmu, maka orang-orang pun menjadikan pemimpin mereka orang-orang yang bodoh, kemudian mereka ditanya lalu mereka pun memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
[Hadis sahih] – [Muttafaq ‘alaih]

Maka, kita telah kehilangan sosok yang sukses dalam hal dunia, tetapi juga sholeh dalam urusan akhirat, adil dalam urusan dunia dan akhiratnya.

Padahal kita seharusnya mencontoh suri tauladan Rasulullah ﷺ. Dalam Surat Al-Ahzab Ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

2. Benturan nilai di dunia nyata

Dalam dunia sekolah, anak-anak dididik menjadi anak yang suka bersahabat dan mandiri, tetapi di dalam rumah dan masyarakat mereka diajarkan sifat konsumtif, dan berlomba-lomba dalam urusan dunia.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an :

أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur” (QS. At-Takatsur [102]: 1-2).

3. Rumah dan Masjid telah diabaikan

Rumah sebagai tempat pendidikan pertama, dan peran masjid sebagai tempat pendidikan agama, sudah tergerus oleh konten gaya hidup dan budaya masyarakat yang hedonism.

Kebahagiaan yang Semu

Hal-hal tersebut di atas, akan menjadikan kebahagian yang semu.

Kebahagiaan semu adalah perasaan senang yang bersifat sementara, dangkal, dan sering kali bergantung pada hal-hal material atau pengakuan eksternal. Perasaan ini biasanya instan dan memudar dengan cepat saat validasi atau objek kesenangan tersebut hilang.

Memahami siklus jebakan ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam ilusi pengejaran kebahagiaan.

Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Surat An-Nur Ayat 39:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَعْمَٰلُهُمْ كَسَرَابٍۭ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ ٱلظَّمْـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.

Sesuatu yang tampak gemilang, bisa jadi seperti fatamorgana, yang hanya merupakan ilusi yang menipu.

Solusi: Kembali kepada Agama Allah ﷻ

Maka, tidak ada yang mampu menerangi kegelapan kehidupan, kecuali cahaya Allah ﷻ. Sebagaimana pesan Allah ﷻ kepada nabi Adam alaihi salam saat diusir dari surga sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 38:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًاۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ۝٣٨

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Lalu, jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.”

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dan keluarga kita generasi yang mulia, tangguh dan rabbani. Aamiin.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Masjid Baiturrohim
JL. Matoa II No. 15 Karangasem Laweyan Surakarta
Luas Area245 m2
Luas Bangunan240 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2005
  • Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan Mengajarkannya. HR. Bukhari, no. 5027.