بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃ Materi : Minhajul Hayah – Bab Ilmu.
🎙┃ Pemateri : Ustadz Muhammad Saerozi, S.Pd, M.Pd Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Rabu , 17 Juni 2026 M / 2 Muharram 1448 H
🕌┃ Tempat : Masjid Baiturrohim – Bulakindah Karangasem.
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Kita telah memasuki tahun baru 1448 H, hendaklah kita semuanya muhasabah terhadap diri kita masing-masing.
Kembali kita ke majelis ilmu, karena segala sesuatu dasarnya adalah ilmu, kita akan tahu halal dan haram kalau kita paham akan ilmunya. Kebenaran bukan bersandar pada budaya atau tradisi masyarakat, tetapi segala sesuatu bersandar kepada wahyu atau dalil syar’i.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya (QS. Al-Mumtahanah (60) : 4).
Dari ayat ini, Nabi ﷺ juga belajar kepada nabi-nabi terdahulu, seperti nabi Ibrahim, Nuh, Sulaiman, Adam, Ismail, yang kesemuanya memiliki kekurangan dan kesalahan yang bisa dijadikan pelajaran.
Dengan nabi Adam alaihissalam, kita belajar bahwa manusia tempat lupa dan salah, dan segera bertaubat. Hingga berdo’a dengan penuh harap.
Do’a Nabi Adam yang paling populer adalah doa memohon ampunan (istighfar) yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 23. Do’a ini dibaca sebagai bentuk pengakuan dosa, kerendahan hati, dan penyesalan.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca setiap saat, terutama ketika sedang bertaubat, setelah salat fardu, atau sedang merasa bersalah.
Demikian juga pelajaran yang diambil dari nabi Yunus alaihissalam. Kisah Nabi Yunus alaihi salam memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dalam menghadapi cobaan, mengakui kesalahan dengan rendah hati, dan keyakinan bahwa memohon ampunan (tobat) akan membukakan jalan keluar dari kesulitan.
Kekuatan Doa dan Tauhid: Beliau memanjatkan doa agung (Laa ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minazh-zhalimin), yang berarti pengakuan atas keagungan Allah dan pengakuan diri atas kezaliman. Doa ini sangat mustajab untuk mengangkat kesedihan dan kesulitan.
Dalam kisah nabi Musa alaihissalam, Nabi Musa pernah ditegur Allah ﷻ ketika beliau merasa dirinya sebagai manusia yang paling pandai. Teguran ini turun saat beliau sedang berkhotbah, dan ditanya oleh kaumnya apakah ada orang lain yang lebih berilmu darinya. Beliau menjawab “Tidak ada” karena menyadari kedudukannya sebagai Kalimullah (orang yang bisa berdialog langsung dengan Allah).
Allah ﷻ kemudian menegur Nabi Musa dengan cara mengutusnya berguru kepada sosok hamba yang lebih berilmu, yaitu Nabi Khidir. Hal ini mengajarkan bahwa ilmu manusia itu sangat terbatas dibandingkan keluasan ilmu Allah, dan menuntut kerendahan hati (tawadhu).
Kisah lengkap dari peristiwa ini menyoroti beberapa poin penting:
Pertemuan di Pertemuan Dua Laut: Allah memerintahkan Nabi Musa mencari seseorang di Majma’ al-Bahrain (pertemuan dua lautan), dengan tanda membawa seekor ikan mati di dalam wadah yang akan hidup kembali.
Dalam Kisah Nabi Sulaiman mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat, memimpin dengan bijak dan adil, serta meyakini bahwa harta dan kekuasaan adalah ujian. Beliau mencontohkan bahwa ilmu harus didahulukan daripada kekuasaan, dan bahwa manusia tidak boleh sombong atas kelebihan apa pun yang dititipkan.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melawan syaithan, berikut riwayat selengkapnya:
إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ ، جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي ، فَقُلْتُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ قُلْتُ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ التَّامَّةِ ، فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَرَدْتُ أَخْذَهُ ، وَاللَّهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مُوثَقًا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ
“Sesungguhnya musuh Allah yaitu Iblis datang membawa obor api untuk diletakkan di wajahku aku lantas berkata; ‘aku berlindung kepada Allah dari engkau’ tiga kali. Lalu aku berkata lagi; ’aku melaknat engkau dengan laknat Allah yang sempurna’ tapi ia tidak pergi sampai tiga kali. Lalu aku ingin menangkapnya, Demi Allah seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman niscaya iblis akan terikat sampai pagi dan akan menjadi mainan anak-anak kota Madinah.”
(HR. Muslim : 1239, Nasai : 1223).
Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).
Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan. Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ.
‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.’”
Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmu bab Raf’ul ‘Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/222, Syarh an-Nawawi).
Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu. Baka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ، وَلَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ، عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ»
Dari Abu Dzarr radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku: “Hai Abu Dzar, engkau pergi di waktu pagi lalu mempelajari satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari pada engkau shalat sebanyak seratus raka’at. Dan engkau pergi di waktu pagi untuk mempelajari satu bab ilmu, kemudian diamalkan ataupun tidak diamalkan, lebih baik dari pada engkau shalat sebanyak seribu raka’at.”
KETERANGAN:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 219, dari Al-‘Abbas bin Abdillah Al-Wasithiy, dari Abdulloh bin Gholib Al-‘Abbaadaniy, dari Abdullah bin Ziyad Al-Bahrooniy, dari ‘Ali bin Zaid, dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Abu Dzarr.
DERAJAT HADITS:
Hadits ini lemah, sebab memiliki beberapa cacat.
(Targhib, vol. 1, hal. 98, dan Al-Matjarur Rabih, Hadits: 24)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu sangat mahal dan berharga, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga.”
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |