Rabu, 22 Juli 2026

Terbit : Rab, 17 Juni 2026

Maafkanlah Saudaramu

Oleh : Takmir Masjid Baiturrohim Akhlak / Artikel Islam
Maafkanlah Saudaramu

Orang-orang Beriman Bersaudara

Islam selalu menganjurkan agar setiap muslim berusaha untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah. Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurat: 10)

Bahkan Allah ingatkan, diantara nikmat besar yang Allah berikan kepada para sahabat adalah Allah jadikan mereka saling mengasihi, saling mencintai, padahal sebelumnya mereka saling bermusuhan,

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kalian orang-orang yang bersaudara, karena nikmat Allah.” (QS. Ali imran: 103).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan hubungan persaudaraan antara sesama muslim, ibarat satu jasad. Jika ada yang sakit, yang lain turut merasakannya,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اثْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim 2586).

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang memboikot kawannya – karena masalah dunia – lebih dari 3 hari,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560).

Khusnudzan dan Maafkanlah

Inilah proyek setan yang terus berkelanjutan. Tujuan utama setan adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara manusia. Mereka menggunakan berbagai cara seperti menghasut, memunculkan rasa iri, dan memanfaatkan pintu utama seperti amarah dan rasa takut.

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ».
[صحيح] – [رواه مسلم] – [صحيح مسلم: 2812]

Jābir -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setan sudah putus asa akan disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, akan tetapi ia masih berharap bisa mengadu domba di antara mereka.” [Ṣaḥīḥ Muslim – 2812]

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Iblis putus harapan bila orang-orang beriman yang mengerjakan salat akan kembali menyembahnya dan bersujud kepada berhala di Jazirah Arab. Tetapi ia masih berharap sekaligus masih melanjutkan perjuangan dan upayanya untuk mengadu domba di antara mereka melalui perseteruan, permusuhan, peperangan, fitnah dan semisalnya.

Maka, khusnudzon lah kepada saudara kita dari hal-hal yang tidak kita sukai, berilah 70 alasan untuk menetralisir prasangka kita. Ada sebuah ungkapan yang indah dari ulama salafus sholih yang hidup di generasi tabi’in, yang memiliki julukan Syaikhul Islam, yakni Muhammad bin Sirin -rahimahullah-, pernyataan ini dinukil oleh Imam al-Baihaqi -rahimahullah- di dalam kitab beliau Syu’abul Iman,

إذا بلغك عن أخيك الشيء تنكره، فالتمس له عذرًا واحدًا إلى سبعين عذرًا، فإن أصبته، وإلا، قل: لعل له عذرًا لا أعرفه.

“Jika kamu mendapati sesuatu yang tidak menyenangkan tentang saudaramu, maka carilah satu sampai tujuh puluh alasan untuk memaafkannya.

Jika kamu bisa menemukan alasan-alasan itu, maka bersyukurlah. Namun jika tidak, katakanlah, “Mungkin dia punya alasan yang tidak aku ketahui.”

Pelajaran moral dari nasehat Muhammad bin Sirin di atas:

Nasehat ini mengandung motivasi untuk tidak bersikap suuzon kepada orang lain. Caranya dengan berusaha mencari alasan untuk memaafkan atau memberikan pemakluman atas kekurangan saudara kita. Bukan berarti membiarkan kemungkaran, namun untuk merespon masalah dengan kedewasaan dan hati yang bersih, yang terjaga dari kebencian kepada orang lain disebabkan oleh suuzon. Sehingga akan memunculkan sikap yang tenang dan dapat merespon kekurangan orang lain dengan sikap yang hikmah. Sungguh kita layak untuk melawan perasaan suuzon kepada saudara kita, karena kita juga manusia bukan makhluk yang sempurna dan pasti penuh dengan aib dan dosa.

Perhatikan pengingat emas dari sahabat Nabi, Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu, yang diriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim. Nasihat tersebut berbunyi:

“Janganlah engkau berburuk sangka terhadap perkataan yang keluar dari lisan saudaramu, sedangkan engkau masih bisa menemukan celah untuk berbaik sangka kepadanya.”

Maka, maafkan saudara kita yang bermasalah satu dengan yang lain. Berkata Hasan Al-Basri Rahimahullah,

‏كانوا يقولونَ: ‏أفضلُ أخلاقِ المؤمنينَ العَفْوُ .

‏” Mereka (para ulama) berkata: Akhlak kaum mukminin yang paling utama adalah memberi maaf.” (Az-zuhud, imam Ahmad:1/287)

Hati para Penghuni Surga

Dari kitab Siyar A’lam An-Nubala (11/262) karya Imam Adz-Dzahabi, di mana beliau meriwayatkan pesan dari Imam Ahmad bin Hanbal:

“Maafkanlah saudaramu. Apa keuntungan yang engkau dapatkan jika Allah menghukum saudaramu sesama Muslim hanya karena (urusan dengan) dirimu?”

Nasehat Al Imam Ahmad rohimahullah tersebut di atas berakar kuat pada prinsip-prinsip utama dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 Balasan Sesuai Jenis Amal

Alqur’an mengajarkan bahwa jika kita menginginkan ampunan dari Allah, maka kita harus memulai dengan mengampuni hamba-Nya.

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu..? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (Qs. An-Nuur: 22)

Pahala Yang Menjadi Urusan Allah Secara Langsung

Biasanya, pahala amal ibadah sudah disebutkan ukurannya. Namun, untuk orang yang memaafkan dan memperbaiki hubungan, Allah menjanjikan pahala yang langsung menjadi dari Allah.

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zholim .” (Qs. Ash-Shuraa: 40)

Sifat Penghuni Surga

Dalam Alqur’an, Allah menyebutkan ciri-ciri orang bertaqwa yang dipersiapkan untuk masuk surga, salah satunya adalah :

“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan..” (Qs. Aali ‘Imran: 134)

 Memaafkan Meningkatkan Kemuliaan, Bukan Kehinaan

Banyak orang merasa bahwa memaafkan adalah tanda kelemahan. Namun Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menegaskan hal yang sebaliknya dalam sebuah hadis :

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan derajatnya..” (HR. Muslim)

Inilah hati orang-orang penduduk surga. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 43:

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلْحَقِّ ۖ وَنُودُوٓا۟ أَن تِلْكُمُ ٱلْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”.

Al-Akafani rahimahullah berkata, “Jalan pintas yang paling cepat menuju surga adalah keselamatan (kebersihan) hati” (Tarikh ad-Dimsyiq 49/123)

Dan inilah yang menjadi kunci bahwa para sahabat Nabi ﷺ meraih surga. Para sahabat Nabi ﷺ meraih surga karena kebersihan hati. Ketulusan, terbebas dari penyakit hati (dengki, dendam), dan ketaatan ikhlas menjadi kunci utama mereka, sebagaimana dicontohkan melalui amal perbuatan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dan kaum muslimin, hati yang bersih yang menjadikan kita selalu bersaudara dalam ikatan iman hingga dipertemukan di surga. Aamiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Baiturrohim
JL. Matoa II No. 15 Karangasem Laweyan Surakarta
Luas Area245 m2
Luas Bangunan240 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2005
  • Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan Mengajarkannya. HR. Bukhari, no. 5027.