
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الـحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدَ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَإِخْوَانِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
“Segala puji hanya milik Allah atas kebaikan-Nya, segala syukur hanya kepada Allah atas taufiq dan karunia-Nya, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya segala puji bagi-Nya, aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada keridhaan-Nya, semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang melimpah kepadanya, keluarga, sahabat, dan pengikutnya.”
Kita awali kajian dengan memanjatkan syukur atas nikmat hadir di majelis ilmu. Dengan menghadiri majelis ilmu, Allah ﷻ akan memudahkan jalan menuju surga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah ﷻ akan memudahkannya masuk surga. Akan menambah ketakwaan dan semakin takut kita kepada Allah ﷻ. Dan charger terbaik bagi iman kita adalah dengan menuntut ilmu. Hingga akhir hayat kita.
Dan termasuk ibadah yang paling mulia adalah dengan menuntut ilmu. Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih,
إلى متى وأنت مع المحبرة
”Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?”
Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal,
مع المحبرة إلى المقبرة
“Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.
Maksudnya, janganlah terputus untuk meraih ilmu agama. Raihlah ilmu agama sampai ajal menjemput.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dalam kitab beliau, Miftah Dar As-Sa’adah berkata: selama engkau masih bernafas, teruslah belajar. Maka, semangatlah dalam menuntut ilmu, agar kita semakin bertaqwa dan beribadah dengan benar.
Sungguh kalau kita menghitung nikmat Allah ﷻ tidak akan mampu menghitungnya.
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Cara terbaik untuk mengetahui betapa berharganya nikmat mata adalah dengan memejamkannya sejenak. Renungkan bagaimana rasanya berada dalam kegelapan dan membayangkan semua detail dunia yang tidak bisa dilihat. Ini baru nikmat melihat…
Namun, ada nikmat yang lebih besar dari itu semua, yaitu nikmat iman, Islam dan hidayah. Nikmat berkesempatan berkunjung ke masjid Allah ﷻ untuk menuntut ilmu. Berbeda dengan nikmat dunia, dimana semua orang bisa mendapatkannya, baik itu muslim ataupun kafir, baik itu hamba yang taat atau yang fasiq, semua mendapat bagian. Oleh karenanya disebutkan dalam sebuah hadits:
إِنَّ الله يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ ، وَلا يُعْطِي الإيْمَانَ إِلا مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi dalam tahqiq beliau terhadapa kitab Ad Daa’ wad Dawaa’ Ibnul Qayyim)
Nikmat terbesar adalah nikmat Islam, Iman dan Sunnah, karena dengannya menentukan kita masuk surga atau neraka. Sungguh nikmat mengenal sunnah adalah nikmat yang tiada tara dan bandingnya setelah nikmat Islam. Sampai-sampai Abul ‘ Aliyah rahimahullah mengungkapkan:
‘Aku tidak tahu, nikmat mana yang paling istimewa di antara dua nikmat yang kuraih; Apakah nikmat hidayah Allah (lantas) aku nemeluk Islam, ataukah nikmat (hidayah sunnah sehingga) Dia tidak menjadikanku seorang Haruriy (pengikut Khawarij, sekte pertama yang menyeleweng dari kemurnian Islam).” (Tarikh Dimasyq no. 16494, Ibnu Asakir).
Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani radhiyallaahu ‘anhu
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِى الصُّفَّةِ فَقَالَ: « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ؟ » فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: « أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ »
Dari Uqbah bin Amir radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ keluar menemui kami di shuffah (serambi masjid), lalu beliau bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buth-han atau lembah Al-‘Aqiq, lalu dia pulang dengan membawa dua ekor onta betina yang berpunuk besar, tanpa melakukan satu dosa atau memutuskan tali silaturahmi?’
Kami menjawab, ‘Ya Rasulullah, kami semua menyukai hal itu.’
Rasululullah ﷺ bersabda, “Mengapa salah seorang dari kalian tidak pergi ke masjid lalu mempelajari atau membaca dua ayat al-Qur’an, (itu) lebih baik baginya dari pada dua ekor onta betina, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor onta betina, dan begitu pula membaca empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor onta betina, dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca (lebih baik dari) sejumlah yang sama dari unta-unta.”(HR. Muslim, no. 803)
Di dalam riwayat lain dengan lafazh:
«فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ»
‘Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi ke masjid lalu mempelajari dua ayat dari kitab Alloh, itu lebih baik baginya dari pada dua ekor unta betina, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor unta, dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca mendapat sejumlah yang sama dari unta-unta.”([HR. Abu Dawud, no. 1456; Ahmad, no. 17408; Ibnu Hibban, no. 115. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth])
Kita harus mengakui bahwa kita semua adalah para pendosa, banyak melakukan kesalahan. Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءً، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang banyak bertaubat. HR. Tirmidzi: 2499, Ibnu Majah: 4251, Ahmad dalam Musnad 20/344 dan dihasankan Al Albani dalam Shahihul Jami’: 4315 2 HR. Muslim: 4674.
Pagi, siang, dan malam kita menerjang larangan Allah dan melalaikan perintah-Nya. Dalam hadits Qudsi Allah ta’aala berfirman:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُالذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni semua dosa.” HR. Muslim: 4674
Dosa-dosa kita banyak. Terkadang Allah membongkarnya namun sebagian besar darinya Allah ta’aala tutupi. Dahulu Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah mengatakan:
!نَحْنُ قَوْمُ مَسَاكِينُ، لَوْلًا سِتْرُ اللهِ لَا فْتَضَحْنَا
“Kita adalah kaum yang miskin (lemah tak berdaya). Seandainya bukan karena Allah yang menutupi, niscaya pasti akan terbongkar aib-aib kita!” Hilyatul Auliya’ 9/181.
Akan tetapi, hal ini jangan sampai justru menipu kita, menjadikan kita terus bergelimang dalam dosa dan maksiat. Kewajiban kita adalah segera memperbanyak taubat, istighfar dan berupaya mengapai ampunan Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
Maka bertaubat atas segala dosa adalah hal penting yang wajib dilakukan oleh seorang hamba. Marengek di hadapan Allah ﷻ, meminta agar segala dosa kita ditutupi dan diampuni oleh-Nya.
Perlu kita sadari bahwa dosa-dosa yang kita perbuat hakikatnya adalah beban yang membe ratkan langkah kaki kita dalam beribadah kepada Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya:
.أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (hai Muhammad) untukmu, dan Kami telah meng hilangkan bebanmu (dosa-dosamu), yang mem beratkan punggungmu?” (QS. Al-Insyirah: 1-3)
Perhatikanlah ayat ini baik-baik, bagaimana Allah ﷻ mengatakan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa dosa yang beliau perbuat memberatkan punggung beliau, padahal dosa yang beliau perbuat hanyalah sedikit, dan itupun telah diampuni oleh Allah. Lantas bagaimana dengan kita yang dosanya menumpuk?! Siang malam kita berbuat dosa tapi kita jarang bertaubat kepada Allah. [Lihat Tafsir Juz ‘ Amma hlm. 249-250 karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.] Sementara Nabi Muhammad ﷺ senantiasa bertaubat dan beristighfar setiap hari, beliau ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّيّ أَتُوبُ في الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.
“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena aku berto bat dalam sehari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim: 2702
Kita sering kali merasa berat dalam beribadah kepada Allah lantaran dosa-dosa yang kita per buat telah memberatkan langkah kaki kita. Sehingga kita tidak bisa berlari menuju Allah ﷻ, padahal kita diperintah untuk berlari menuju-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Apabila punggung telah berat oleh beban tumpukan dosa, maka hati akan terasa berat melangkah menuju Allah dan anggota badan akan terasa berat untuk bangkit melakukan ketaatan”. [Bada’iu Tafsir 3/332].
Berikut ini beberapa amalan yang apabila kita kerjakan maka Allah ﷻ akan meleburkan dan mengampuni dosa kita, diantaranya:
Bertauhid dan menjauhi syirik merupakan amalan paling utama untuk menggapai ampunan Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah ﷻ berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْنًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.
“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan Aku sedikit pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh itu pula.” [HR. Tirmidzi: 3540 dan dihasankan Al Albani dalam Shahihul Jami’: 4338].
Agar kita bisa senantiasa berada di atas tauhid sampai berjumpa dengan Allah ﷻ maka setidaknya ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu:
Pertama, senantiasa berdo’a kepada Allah ﷻ
Meminta penjagaan kepada-Nya agar tidak ter jerumus ke dalam kesyirikan. Nabi Ibrahim saja yang kita tahu semua kedudukannya, tetap beliau berdo’a:
وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَۗ
“Ya Tuhanku, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Kalau Nabi Ibrahim alaihissalam saja takut terhadap kesyirikan padahal beliau adalah manusia yang paling dicintai Allah ﷻ, bapak para Nabi, penghulu orang-orang yang bertauhid maka selain beliau lebih layak untuk khawatir dan senantiasa berdo’a memohon perlindungan kepada Allah ﷻ.
Kedua, senantiasa belajar ilmu agama terutama tauhid. Dengan ilmulah kita bisa membedakan antara tauhid dan syirik, bisa mengetahui jalan yang mengantarkan ke surga atau neraka. Allah ﷻ berfirman:
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ
“Maka ketahuilah wahai Muhammad, bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan untuk dosamu.” (QS. Muhammad: 19)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja diperintahkan un tuk mempelajari kalimat tauhid maka kita lebih layak lagi untuk senantiasa belajar tauhid. Maka jangan pernah bosan dan merasa puas dari belajar tauhid. Wajib bagi kita belajar sampai kita meninggal dunia. Allah ﷻ berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ ٩٩
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepa damu ‘yaqin’ (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Allah ﷻ berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَـٰرَةٍۢ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍۢ ١٠ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ١١ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ وَمَسَـٰكِنَ طَيِّبَةًۭ فِى جَنَّـٰتِ عَدْنٍۢ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ ١٢
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan hartamu dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tem pat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ash-Shaf: 10-12)
Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa iman dan amal shalih merupakan salah satu sebab pelebur dosa. Oleh karenanya, wajib bagi kita semua untuk merawat iman dan berusaha senan tiasa meningkatkannya. Iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berkata: “Dan telah menjadi kesepakatan para sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka dan ulama yang kami dapati, mereka mengatakan: Iman itu mencakup ucapan, perbuatan dan niat, tidak cukup salah satu dari tiga hal ini kecuali dengan yang lain”. (Syarh Ushul I’tiqod Ahli Sunnah wal Jama’ah 5/886 karya Al-Lalikai. Dan ijma’ ini dinukil juga oleh Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah 1/38, Abu ‘Ubaid dalam Al-Iman hlm. 66, Al-Ajurri dalam Asy-Syariah hlm. 119, Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid 8/238).
Iman bisa usang, sehingga butuh untuk selalu diperbaharui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِى جَوفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ القَّوبُ فَاسْأَلُوا الله أَنْ يُجَدِّدَ الإيمَانَ فى قُلُوبِڪُم.
“Sesungguhnya iman itu bisa usang (menjadi lemah) dalam diri salah seorang di antara kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” [HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 1/4 dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 4/113].
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah berkata: “Seorang hamba yang beriman selalu berusaha menerapkan dua hal:
Pertama: Menguatkan pondasi-pondasi keima nan dan cabangnya dengan mengilmui dan mengamalkannya.
Kedua: Berusaha semaksimal mungkin untuk menangkis segala hal yang dapat mengotori imannya dan berusaha untuk mengobatinya sebelum terlambat. [At-Taudhih wal Bayan li Syajarotil Iman hlm. 38].
Di antara kiat merawat dan memperbaharui keimanan adalah: belajar ilmu agama, membaca Al-Qur’an, berteman dengan orang-orang shalih, selalu mengingat kematian, membaca sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama. [Lihat Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi karya Syaikh Abdur Razzaq Al Badr].
Senantiasa mengingat Allah adalah salah satu sebab pelebur dosa. Allah ﷻ berfirman:
وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
“Dan laki-laki yang banyak mengingat Allah dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dzikir bisa melebur dosa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ، أَنْ يَكْسِبَ كُلّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍِ؟ يُسَبِّعُ اللهَ مِاتَةَ تَسْبِيْحَةٍ؛ فَيَكْتُبُ اللهُ لَهُ بِها أَلْفَ حَسَنَةٍ، ويَحُطُ عَنْهُ بِهَا أَلْفَ خَطِيْئَةٍ
“Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari? Ia bertasbih (mengucapkan subhanallah) seratus kali, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan, atau menghapuskan darinya seribu kesalahan.” [HR. Muslim: 2698].
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ِ
مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبَِحَمْدِهِ، فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ؛ حُطظَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.
“Barang siapa mengucapkan: Subhanallahi wa bihamdih (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali dalam sehari, maka dosa-dosanya akan dihapuskan, meskipun sebanyak buih di lautan.” [HR. Bukhari: 6405 dan Muslim: 2691].
Perlu diketahui bahwa Dzikir memiliki dua makna:
Pertama: Makna Umum, yaitu semua amalan ke taatan yang mengingatkan kita kepada Allah ﷻ.
Said bin Jubair Rahimahullah berkata: “Setiap orang yang melakukan ketaatan kepada Allah berarti dia berdzikir kepada Allah”. [Al Adzkar hlm. 9].
Al Hafidz An Nawawi Rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwasanya keutamaan dzikir tidaklah terbatas pada tasbih, tahlil, takbir dan lain sebagainya. Namun dzikir itu mencakup semua orang yang melakukan ketaatan kepada Allah ﷻ berarti dia berdzikir kepada Allah”. [Al Adzkar hlm. 9].
Dzikir umum yang paling utama adalah:
Kedua: Dzikir khusus, yaitu dzikir dengan lisan berupa takbir, tasbih, tahlil dan sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلا إِلَهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Saya mengucapkan: Subhanallah (Mahasuci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illa Allah (Tidak ada sembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah), Allahu Akbar (Allah Mahabesar), itu lebih baik bagi saya dari pada terbitnya matahari (dunia dan isinya).” [HR. Muslim: 2695 ].
Yakinlah, kalau kita banyak berdzikir kepada Allah, niscaya hati kita akan tenang. Allah ﷻ berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28)
Pernah seorang datang kepada Hasan Al Bashri Rahimahullah mengeluh tentang hatinya yang membeku maka beliau menjawab: “Cairkanlah dengan dzikir”. [Az Zuhd 1510 karya Imam Ahmad, Ar Riqqah wal Buka’u hlm. 48 karya Ibnu Abi Dunya.] Abdullah bin Aun berkata: “Mengingat manusia itu penyakit, sedangkan mengingat Allah adalah obat penawar”. Kata Imam Adz Dzahabi mengomentari ucapan ini: “Benar demi Allah, tapi betapa mengherankannya diri kita, karena kejahilan kita, bagaimana kita meninggalkan obat dan meneguk penyakit”.[Siyar A’lam Nubala’ 6/369]
Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
Katakanlah: “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Ayat mulia merupakan hakim bagi orang-orang yang me ngaku cinta Allah tetapi dia tidak mengikuti jalan yang ditempuh Nabi, dia dusta dalam pengakuan nya sehingga dia mengikuti syariat dan agama Nabi Muhammad dalam setiap ucapannya, perbuatannya, dan keadaannya”.Tafsir Al-Qur’anil Adzim 1/477.
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menyebutkan dua buah manis dari mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu meraih cinta Allah dan ampunan dari Allah.
Oleh karenanya, hendaknya bagi kita semangat mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua aspek kehidupan. Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedata ngan) Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini merupakan landasan pokok agar kita meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tutur katanya, perbuatannya dan segala keadaan beliau.” Tafsir Al Quranil Adzim 6/391
Mari kita berusaha meneladani beliau walau pun dalam masalah-masalah yang kecil dan jangan pernah meremehkan, karena di dalam mengikuti sunnah Nabi di situlah keselamatan, keberkahan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata:
إِنِ اسْتَطَعْتَ أَلَّا تَحُكَّ رَأْسَكَ إِلَّا بِأَثَرٍ؛ فَافْعَلْ
“Jika engkau mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan landasan dalil (atsar), maka lakukanlah.” (Al Jami’ li Akhlaki Rawi wa Adabi Sami 1/142 karya Al Khathib Al Baghdadi).
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan me ngangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyem purnakan wudhu meskipun dalam keadaan yang tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat.” [HR. Muslim: 251]
Dengan wudhu, Allah akan membersihkan ba dan dan hati kita. Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ ٢٢٢
“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
Dalam ayat ini menyebutkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat cinta. Tetapi cinta Allah tidak sama dengan cintanya makhluk. Dan tujuan kita mengetahui bahwa Allah punya sifat cinta adalah sebagai motivasi bagi kita karena kita sangat ingin dicintai Allah ﷻ dan meraih cinta-Nya. Salah satu cara agar kita di cintai Allah ﷻ adalah melaksanakan ayat ini:
Pertama: Dengan bertaubat.
Kedua: Dengan bersuci. Dan ini mencakup dua jenis kesucian yaitu:
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابٍ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْم خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءُ؟ قَالُوا: لَا يَبْقى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءُ. قَالَ: فَذُلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخُمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الخطَايَا.
“Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah salah seorang dari kalian ada sebuah sungai, lalu ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apa kah masih akan tersisa kotoran pada dirinya?” Mereka menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun dari kotorannya.” Beliau bersabda: “Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Allah mengha pus dosa-dosa dengan shalat-shalat tersebut.” [HR. Bukhari: 528 dan Muslim: 667].
Shalat bukan hanya gerakan badan semata, namun lebih dari itu, shalat merupakan gerakan yang mendatangkan berbagai manfaat yang banyak sekali, baik manfaat akhirat berupa pahala, ampunan dosa dan lain sebagainya, begitu juga manfaat dunia berupa kesehatan, penghilang penyakit. Jika banyak orang yang melakukan olah raga, jalan, senam dan lari untuk membakar kalori dalam tubuh, maka shalat membakar dosa plus sekaligus kalori dalam tubuh juga.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Shalat mengundang rezeki, menjaga kesehatan, menangkal penyakit, mengusir berbagai penyakit, menguatkan hati, mencerahkan wajah, membahagiakan jiwa dan mengusir kemalasan”. [Zadul Ma’ad 4/304].
Ramadhan adalah tamu istimewa. Di bulan ini, Allah menurunkan Al-Qur’an yang mulia, membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, membelenggu para syetan yang durjana, dan menyediakan satu malam spesial yang lebih berharga dari seribu bulan (setara dengan 83 tahun 4 bulan) yang dikenal dengan Lailatul Qa dar namanya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرً مُبَارَكُ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجُنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجُحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةُ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرِ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ra madhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewa jibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syetan-syetan dibelenggu. Di dalam bulan ini ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalang dari ke baikannya maka sungguh dia terhalang untuk mendapatkannya.” [HR. Ahmad 12/59, Nasa’i 4/129. Syaikh al-Albani berkata: “Ha dits shahih lighairih.” (Lihat Shahih at-Targhib 1/490, Tamamul Minnah hlm. 395, keduanya karya al-Albani)].
Di antara kesitimewaan bulan ini, Allah ﷻ membentangkan ampunan-Nya, sehingga ada ba nyak amalan yang ganjarannya adalah ampunan Allah, di antaranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari 4/250, Muslim 759].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barang siapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari 4/250, Muslim 759].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang shalat pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan harapan pa hala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari: 2014, Muslim: 760]
Pada bulan ini juga, Allah ﷻ melipatgandakan pahala puasa dengan nilai tiada terhingga, hanya Allah yang mengetahuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber sabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحْسَنَةُ بِعَشْرٍِ أَمْتَالِهَا إِلى سَبْعِمِاتَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِلَّا الصَّوْمَ. فَإِنَّهُ لِي، وَأَنا أَجْزِي بِه
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan: satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfir man: ‘Kecuali puasa, karena itu adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” [HR. Muslim: 2763].
Oleh karena kemuliaan dan keistimewaan bulan ini, maka hendaknya bagi setiap muslim untuk menjadi hamba-hamba yang cerdas dalam memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala serta berlomba-lomba memperbanyak bekal menghadap Allah ﷻ.
Banyak orang tidak peduli bahkan cenderung cuek dengan kedatangan bulan Ramadhan. Mereka menyia-nyiakan kesempatan sehingga mereka menjadi orang-orang yang merugi. Sehingga tidak ada yang mereka dapatkan dari bulan Ramadhan selain lapar dan dahaga semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.” [HR. Ibnu Majah 1690, dan dishahihkan Al Albani dalam al-Misy kah no. 2014 dan Shahihul Jami’ no. 3488].
Ramadhan berlalu namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah ﷻ. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُ
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ
“Celakalah seorang yang mendapati bulan Rama dan, namun tidak diampuni dosa-dosanya.” [HR. Al Bazzar: 4277 dan Ath Thabarani 2/244 dan dihasankan Al Albani dalam Shahihul Jami’: 3510].
Syaikhuna Dr. Abdur Razzaq Al Badr hafidzahullah berkata: “Orang yang paling merugi adalah seorang yang diberi kesempatan bertemu dengan musim kebaikan dalam sehat wal afiyat, namun dia tidak meraih keberkahan Ramadhan dan tidak meng gapai ampunan di bulan Ramadhan”. [Al Khuthab Al Minbariyyah hlm. 27.] Padahal bulan Ramadhan adalah bulan dibentangkannya ampunan. Jika di bulan ini kita tidak meraih ampunan-Nya, lantas kapan lagi kita akan meraihnya?!
Adapun orang-orang yang memahami keuta maan dan kemuliaan bulan Ramadhan seperti Rasulullah, para sahabat, ulama serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka, maka mereka sangat bersemangat memanfaatkan kesempa tan baik ini secara maksimal dengan melakukan segala bentuk jenis ibadah. Mereka betul-betul mengamalkan perintah Allah ﷻ:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas la ngit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa bila awal Ramadhan tiba maka akan ada penyeru yang menyeru:
يَا بَاغِيَ اخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاعِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ.
“Wahai pencari kebaikan, majulah (bersemangat lah). Dan wahai pencari keburukan, berhentilah (dari kemaksiatan).” [HR. Ibnu Majah: 1642, Al Hakim: 1532 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib 2/99].
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كفَّارَةً لِمَا بَيْنَهُمَا, وَالْحجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءُ إِلاَّ الْجنَّةَ
“Umrah ke umrah berikutnya pelebur dosa antara keduanya. Dan tidak ada balasan untuk haji mabrur kecuali surga”. [HR. Bukhari 1683 Muslim 1349].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa seba gaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pa hala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” [HR. Tirmidzi no. 810, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah no. 1200].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa yang menunaikan haji dalam ke adaan tidak berbuat rafats (cabul) dan fusuk (maksiat), maka akan disucikan dirinya dari dosa dosa, seperti layaknya seorang bayi yag baru lahir dari rahim ibunya.” [HR. Bukhari: 1449, Muslim: 1350].
Sungguh merupakan kebahagiaan seorang hamba tatkala dipilih menjadi tamu Allah ﷻ, karena dia bisa memperbanyak melakukan amalan ibadah dengan pahala berlipat ganda, lebih fokus mencari bekal akhirat dan menyepi dari kebisi ngan dunia yang melelahkan, dan mencuci hati nya dari segala noda. Ya Allah, anugerahkanlah hamba dan pembaca semua untuk sering ke tanah suci agar bisa memperbanyak ibadah di sana sebagai bekal pulang kampung di akhirat kelak.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ، كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ.
“Sedekah dapat memadamkan dosa, sebagaima na air memadamkan api.” [HR. Ahmad 5/231, Tirmidzi: 2616, Ibnu Majah: 3973 dan disha hihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’: 5136].
Sedekah adalah amalan utama yang merupa kan kejujuran iman pelakunya dan simbol kasih sayang kepada sesama hamba. Islam sangat menganjurkannya dan memberikan banyak keutamaan padanya, di antaranya:
Oleh karenanya, mari kita budayakan gemar sedekah dengan niat ikhlas karena Allah, dari harta yang halal dan yang kita cintai, lebih-lebih sedekah kepada keluarga, kerabat, orang-orang lemah baik para fakir miskin, janda, anak yatim dan orang yang tertimpa bencana. Dahulu, tatkala terjadi gempa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, beliau menulis surat kepada para gubernurnya untuk bersedekah dan memerintah rakyat untuk bersedekah. [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (5/337), Ibnu Abi Dunya dalam al-’Uqubat (no. 23) dengan sanad jayyid (bagus).
Begitu juga lebih ditekankan lagi di musim musim kebaikan seperti bulan Ramadhan, 10 awal bulan Dzulhijjah dan sebagainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Membantu fakir miskin dengan memberi makan mereka di bulan Ramadhan termasuk ajaran Islam yang mulia”. [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah 25/298] Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Perbanyaklah sedekah di bulan ini kepada fakir miskin, orang yang terlilit hutang dan orang yang membutuhkan, karena sedekah di bulan ini memiliki keistimewaan dibandingkan di bulan-bulan lainnya”. [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 14/202].
Sedekah membutuhkan keberanian dan kesu ngguhan karena tabiat manusia adalah tamak terhadap harta dan kikir. Akan tetapi jika seorang mampu bersedekah maka Allah pasti menganti nya. Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Sedekah itu termasuk jenis jihad. Orang pengecut akan geme tar mengeluarkannya dan pemberani akan kokoh mengeluarkannya”. [Majmu’ Fatawa 14/95].
Percayalah, dengan sedekah maka Allah justru akan menambah rezeki kita bukan malah mengu rangi kita sebagaimana disebutkan dalam banyak dalil. Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Hendak nya seorang tatkala menyalurkan hartanya di jalan yang diridhai oleh Allah untuk yakin dan optimis dengan janji Allah dalam kitabnya bahwa Allah akan menggantinya”. [Syarh Riyadh Shalihin 3/401.]
Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ ١٢
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka padahal mereka tidak melihat Nya, bagi mereka ampunan dan pahala yang be sar.” (QS. Al-Mulk: 12)
Ayat ini sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa hendaknya yang kita takutkan adalah Allah bukan manusia. Jangan sampai seorang istri takut hanya jika ada suami atau sebaliknya, anak hanya takut jika ada orang tuanya. Tapi takutlah kepada Allah, yang selalu mengawasi dan mengetahui segala perbuatan kita maka Allah akan mengampuni dosa kita dan memasukkan kita ke surga. Allah ﷻ berfirman:
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ ٤٠ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٤١
“Adapun orang yang takut akan (dahsyatnya) berdiri di hadapan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40-41)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ber cerita: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang didatangi ajal, dan ketika ia telah putus asa dari kehidupan, ia berwasiat kepada keluarganya: “Jika aku mati, kumpulkanlah kayu bakar yang banyak, lalu nyalakan api padanya. Ketika api itu telah membakar dagingku dan sampai ke tulangku, dan tubuhku hancur berkeping-keping, ambillah sisa-sisanya, tumbuklah hingga halus, kemudian pilihlah hari yang berangin, lalu tebarkan abuku ke laut.” Mereka pun melakukannya. Maka Allah berkata kepadanya, “Mengapa engkau melakukan hal itu?” Ia menjawab, “Karena rasa takutku kepada-Mu.” Lalu Allah pun mengampuninya”. [HR. Muslim: 2756.]
Hal ini sangat penting sekali untuk kita tanamkan pada diri kita, terutama pada zaman sekarang, saat pintu-pintu dosa terbuka lebar dan dimudahkan. Bila kita tidak membekali diri kita dengan senjata ini maka akan hancur pertahanan iman kita dan kita akan tersungkur dalam jerat-jerat syetan.
Dan untuk menghadirkan rasa takut ini, maka hendaknya seorang hamba melakukan hal-hal berikut:
Dan inilah intinya ilmu. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallohu’anhu berkata:
گَفَی بخَشْیَةِ اللهِ عِلْمًا
“Cukuplah dengan rasa takut kepada Allah se bagai tanda ilmu.”[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/104 ]
Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata: “Intinya ilmu adalah takut kepada Allah”.[Thabaqat Hanabilah 1/283] Maka ilmu yang tidak membuahkan rasa takut kepada Allah pada diri kita, sejatinya itu adalah tanda bahwa ilmu kita tidak bermanfaat.
Kisah-kisah tentang takutnya para salaf sangat banyak sekali. Diantaranya, Abu Bakar Muham mad bin Mahrawaih berkata: Saya mendengar Ali bin Husain bin Junaid berkata: Saya mendengar Yahya bin Main berkata: “Kita mengkritik suatu kaum yang bisa jadi mereka telah pergi ke surga semenjak dua ratus tahun yang lalu”.
Ibnu Mahrawaih berkata: “Setelah itu, saya masuk ke Ibnu Abi Hatim dan beliau sedang memba cakan kitab Al-Jarh wa Ta’dil kepada manusia. Aku ceritakan ucapan Ibnu Main di atas kepadanya, lalu dia menangis, kedua tangannya bergemetar sehingga kitabnya jatuh dari tangannya, diapun terus menangis, dan meminta kepadaku untuk mengulangi ucapan di atas, sampai akhirnya dia tidak jadi melanjutkan pelajaran saat itu”. [Tarikh Dimsyaq, Ibnu Asakir 35/365]
Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah berkomentar: “Hal ini menunjukkan rasa takutnya beliau, karena pada asalnya ucapan seorang pengkritik yang wara’ (hati-hati/takut) tentang orang-orang lemah merupakan nasehat untuk agama Allah dan membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [Siyar A’lam Nubala 13/268].
Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah sedang duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba beliau terdiam sedangkan teman-temannya asyik ngo brol, lalu mereka bertanya: “Wahai Amirul muk minin, kenapa engkau diam?” Beliau menjawab: “Saya sedang memikirkan bagaimana kelak pen duduk surga saling berziarah dan bagaimana pen duduk neraka teriak kesakitan, lalu beliau pun menangis”. [Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 3/118].
Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ٢٩
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mem berimu furqan (kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah), dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu serta mengampunimu. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al Anfal: 29)
Takwa adalah membentengi diri kita dari api neraka dengan cara mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Al Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, “Asal makna takwa adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dengan yang ia takuti dan waspadai penjagaan yang menjaganya. Maka takwanya seorang hamba kepada Rabb-Nya, hendaklah ia menjadikan penjagaan dan kewaspadaan antara dirinya dengan Allah dari perkara-perkara yang bisa mendatangkan marah, murka dan siksa-Nya. Yang demikian itu adalah dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”. [Jami’ul Ulum Wal Hikam 1/398.]
Siapapun yang membekali dirinya dengan peri sai taqwa dalam kehidupannya di manapun dan kapanpun, baik saat sendiri atau di keramaian, maka Allah akan selalu menjaganya dan memper baiki keadaannya.
Inilah orang-orang yang dikatakan sebagai wali-wali Allah dalam surat Yunus. Allah me nyebutkan tentang siapa wali Allah itu. Allah ﷻ berfirman:
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ٦٢ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ ٦٣
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)
Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢٢
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Ayat ini sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa memaafkan kesalahan orang lain meru pakan salah satu sebab kita mendapat ampunan Allah. Ketika Allah ﷻ menyifati orang-orang peng huni surga, diantara sifat mereka adalah:
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Sebuah kisah menarik terjadi pada Ja’far Ash Shadiq seorang ulama yang termasuk Ahlul baitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari ia dibuat jengkel oleh budaknya, kemudian budaknya ini membacakan ayat ini, maka Ja’far pun menahan amarahnya, memaafkan budak tersebut serta memerdekakannya. [Al Mustathraf 1/260].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga tidak kalah menarik. Disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin, bahwa suatu hari orang yang selalu memusuhi dan membenci Syaikul Islam meninggal dunia ketika dikabarkan kepadanya, ia pun segera datang ke rumah yang meninggal itu untuk berta’ziyah lalu mengatakan kepada keluarganya; Akulah yang akan menggantikan posisi ayah kalian (maksudnya: menanggung kebutuhan mereka). [Lihat Madarij Salikin 3/139]
Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata: “Sebaik-baik akhlak seorang mukmin adalah memaafkan”. [Al Adab Syar’iyyah 1/171 ] Imam Ahmad Rahimahullah berkata: “Maafkanlah sauda ramu, apa manfaatnya bagimu bila Allah menyik sa saudaramu karena sebab kamu?” [Siyar A’lam Nubala’ 11/262]
Ini adalah satu akhlak penduduk surga yang sangat penting; tidak dendam dan mudah me maafkan, memiliki hati yang bersih. Allah ﷻ ber firman:
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۗ ٤٥ اُدْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ اٰمِنِيْنَ ٤٦ وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ ٤٧
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa be rada dalam surga dan mata air. Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman. Dan Kami cabut segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sehingga mereka menjadi bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 45-47)
Menghadapi segala kesulitan hidup dengan si kap sabar merupakan salah satu sebab mendapat kan ampunan Allah ﷻ. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمِّ، وَلا حُزْنٍ، وَلَا أَذِّى، وَلَا غَمِّ، حَتَّى الشَّوْگَةِ يُشَاكُهَا، إِلا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karena itu.” [HR. Muslim: 5641 dan Muslim: 2573]
Para ulama menyebutkan bahwa sabar ada 3 macam, yaitu:
Dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan, maka kita harus bersabar. Istirahat yang hakiki tempatnya nanti di akhirat, di surga bukan di du nia ini. Imam Ahmad Rahimahullah pernah ditanya: “Kapan seorang itu benar-benar merasakan istirahat yang sesungguhnya?” Maka beliau menjawab: “Saat ia menginjakkan kakinya di surga.” [Thabaqat Hanabilah 1/293.]
Terutama jika istighfar itu dilakukan ketika sepertiga malam terakhir. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، يَقُولُ النَِّيُّ َِليليّه: يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيُنَادِي، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu Dia berseru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan nya? Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’”
Hadits nuzul ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi, dian taranya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, Jubair bin Muth’im, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, Amr bin ‘Abasah, Rifa’ah bin ‘Arabah Al-Juhani, Utsman bin Abi ‘Ash Ats-Tsaqafi, Abdul Hamid bin Salamah dari ayahnya dari kakeknya, Abu Darda’, Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Aisyah, Abu Musa Al-Asy’ari, Ummu Sala mah, Anas bin Malik, Hudzifah bin Yaman, Laqith bin Amir Al- ‘Uqaili, Abdullah bin Abbas, Ubadah bin Shamith, Asma’ binti Yazid, Abul Khaththab, ‘Auf bin Malik, Abu Umamah Al-Bahili, Tsauban, Abu Haritsah, Khaulah binti Hakim. (Lihat Mukhtashar Shawaiq Mursalah Ibnul Qayyim 2/230, Umdatul Qori Al-‘Aini 7/198, Kitab Nuzul Ad-Daraqutni).
Maghfirah (ampunan) Allah ﷻ kepada hamba mencakup dua hal, yaitu:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Istighfar seorang hamba jauh lebih penting dari semua do’a yang dia panjatkan”. [Jami’ul Masail 6/277].
Malik bin Dinar Rahimahullah berkata: “Dahulu, orang orang shalih saling mewasiatkan dengan tiga hal: Menjaga lisan, banyak istighfar dan menyendiri dari manusia”. [Sifatu Shafwah 3/278].
Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata: “Perbanyaklah oleh kalian istighfar, di meja makan, di jalan, di pasar dan di majlis dan di manapun kalian be rada, karena kalian tidak tahu kapan saatnya am punan Allah itu turun”. [Syu’abul Iman, Al Baihaqi no. 647. ]
Menarik, pernah ditanyakan kepada Ibnul Jauzi Rahimahullah: “Mana yang lebih utama, saya bertas bih atau istighfar? Maka beliau menjawab: “Baju yang kotor itu lebih butuh kepada sabun dari pada kepada pengharum”. [Fathul Bari, Ibnu Hajar 1/103.]
Jangan pernah putus asa dari istighfar walau terjerumus kembali dalam dosa. Pernah ditanyakan kepada Hasan Al Bashri: “Tidakkah seorang diantara kita merasa malu kepada Rabb-nya, dia istighfar dari dosa lalu mengulang dosa lagi, istighfar lagi tapi ngulangi dosa lagi! Beliau pun menjawab: “Syetan amat senang jika mendapati kalian seperti itu, namun janganlah kalian merasa bosan untuk terus istighfar”. [At Taubah, Ibnu Abi Dunya: 119.]
Maka perbanyaklah istighfar, niscaya engkau bahagia di dunia dan di akhirat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mendapati bahwa dadanya tidak terasa lapang, tidak merasakan manisnya iman dan cahaya hidayah, maka hendaknya dia memperbanyak tau bat dan istighfar”. [Al Fatawa Al Kubra 5/62].
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ: بَذْلَ السَّلَامِ، وَحُسْنَ الْكَلَامِ
“Sesungguhnya termasuk hal-hal yang menyebab kan ampunan adalah: menyebarkan salam dan berbicara dengan baik.” [HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir 22/180 dan dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah: 1035]
Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا.
“Tidaklah dua orang Muslim saling bertemu lalu berjabat tangan, melainkan akan diampuni dosa dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” [ HR. Abu Dawud: 5212, Tirmidzi: 2727, Ibnu Majah: 3703 dan di hasankan Al Albani dalam Ash Shahihah 2/59]
Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ، تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا، كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ.
“Sesungguhnya apabila seorang mukmin berte mu dengan mukmin lainnya, lalu mengucapkan salam kepadanya dan berjabat tangan dengan nya, maka dosa-dosa keduanya akan berguguran sebagaimana daun-daun pohon berguguran.” [HR. Ath Thabarani: 245. Lihat Ash Shahihah: 526 dan Shahih Targhib wa Tarhib: 2720]
Hadits-hadits ini menunjukkan kepada kita tentang keutamaan mengucapkan salam dan berjabat tangan dan bahwasanya kedua hal tersebut termasuk amalan pelebur dosa. Sungguh, ini termasuk luasnya Rahmat Allah ﷻ karena amalan ini ringan dan mudah tapi pahalanya luar biasa.
Hal itu karena menebar salam dan berjabat tangan merupakan sarana utama untuk mem perkokoh persaudaran dan persatuan yang meru pakan pokok penting agama Islam yang mulia.
Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:
وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
“Dan laki-laki yang memelihara kemaluannya, dan perempuan yang memelihara (kemaluannya), dan laki-laki yang banyak menyebut Allah, serta perempuan yang banyak menyebut Allah — Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
Diantara dosa yang banyak menjerumus kan manusia dalam kubang dosa adalah dosa farji berupa zina, homoseks, onani. Oleh kare nanya, Islam sangat menganjurkan kita untuk menjaga farji dan menutup segala celah yang mengantarkan kepadanya, karena termasuk kaidah syari’at Islam yang baku adalah “Apa bila Allah mengharamkan sesuatu maka Dia mengharamkan juga segala perantaranya”. Oleh karena itulah Allah dan Rasul-Nya mem bendung pintu-pintu menuju zina seperti perin tah jilbab, menundukkan pandangan, larangan menyepi dengan wanita asing, wanita tidak bo leh bepergian tanpa mahram, wanita bila keluar rumah tidak boleh menampakkan perhiasan dan dandanan, haram campur baur antara pria dan wanita, dan lain sebagainya”. [ Lihat Al-Hudud wa Ta’zirat karya Syaikh Bakr Abu Zaid hal. 106- 113.]
Oleh karenanya, di tengah derasnya godaan syahwat yang menggelora pada zaman sekarang, hendaknya seorang hamba melakukan langkah langkah agar dijauhkan dari dosa farji, di antaranya adalah dengan:
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
بَيْنَمَا رَجُلُ يَمْشِي بِطَرِيقٍ، وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ في الطَّرِيقِ، فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَلَهُ.
“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di sebuah jalan, ia menemukan ranting berduri di jalan itu, lalu ia menyingkirkannya. Maka Allah pun ber terima kasih kepadanya, lalu mengampuninya.” [HR. Bukhari: 652 dan Muslim: 1914].
Menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk cabang keimanan dan termasuk amal shalih yang merupakan faktor pelebur dosa dan pembuka pintu surga. Kita sering menjumpai di tengah jalan: paku, batu, tangkai kayu, bangkai binatang, lubang, dan sebagainya. Namun, pernahkah hati kita tergerak melakukannya?! Mulai sekarang, amalkanlah ibadah ini, siapa tahu itulah pintu surga yang menyebabkan dirimu masuk surga.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رزُظََّهه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ َله: مَرَّ رَجُلُ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرٍ طَرِيقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ لَأُ نَخَيَنَّ لهُذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجنَّةَ
“Dari Abu Hurairah a berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber sabda: “Ada seorang lelaki yang melewati sebuah tangkai pohon di tengah jalan, lalu dia berkata: ‘Demi Allah, saya akan menyingkirkan hal ini dari kaum muslimin supaya tidak menyakiti mereka.’ Lalu dia pun akhirnya dimasukkan ke surga.” [HR. Muslim: 2021]
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah mengatakan: “Jika menyingkirkan gangguan dari jalan adalah se dekah maka menyingkirkan gangguan yang ber sifat maknawi jauh lebih utama yaitu dengan menjelaskan kebid‘ahan dan kemungkaran serta menghukum para pelaku kerusakan agar tidak menyebarkan virus kerusakan kepada manusia.” [Syarh Arba‘in Nawawiyyah hlm. 266].
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِي يَوْمِ حَارِّ، يُطِيفُ بِبثْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ، فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا، فَغُفِرَ لَهَا.
“Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing pada suatu hari yang sangat panas, yang menge lilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidah nya karena kehausan. Maka wanita itu mengam bilkan air untuknya dengan sepatunya, lalu Allah mengampuni dosa-dosanya.” [HR. Bukhari: 2363 dan Muslim: 2244]
Hadits ini menunjukkan keutamaan mem bantu orang dengan memberinya minuman. Ini termasuk amalan yang sangat ditekankan. Dari sahabat Sa’ad bin Ubadah a berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ! إنَّ أُتَّيْ مَاتَتْ، أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ : نَعَمْ قُلْتُ: فَأَيُّ الصَّدَقةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: سَقْيُ الْمَاءِ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia. Apakah aku boleh bersedekah atasnya?” Rasulullah berkata: Ya. Aku berkata: Sedekah apa yang paling utama? Beliau berkata: Memberi Air.” [HR. An-Nasai dihasankan oleh Syaikh Al-Albani ]
Al Qurthubi Rahimahullah berkata: “Memberi minum termasuk amalan utama di sisi Allah. Sebagian tabi’in mengatakan: “Barang siapa yang banyak dosanya maka hendaknya dia memberi minum. Sungguh Allah telah mengampuni dosa seorang yang memberi minum kepada anjing, lantas bagaimana dengan seorang yang memberi minum kepada orang beriman yang bertauhid?!”. Al Jami’ li Ahkamil Qur’an 7/215.
Jika ini keutamaan memberi minum, maka bagaimana lagi dengan memberi makanan, tentu lebih utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَأَظْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامُ تَدْخُلُوا الْجنَّةَ بِسَلَامِ
“Berikanlah makanan, sambunglah silaturahmi, shalatlah di waktu malam saat manusia terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” [HR. Ibnu Majah: 2648 dan dishahihkan Al Albani]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنَا، أَوْ تَظْرُدُ عَنْهُ جُوعَا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِيْ حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِيْ هُذَا الْمَسْجِدِ – يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah menyenang kan seorang muslim, menghilangkan kesulitan darinya, melunasi utangnya, mengusir kelaparan darinya. Sungguh aku berjalan bersama sauda raku untuk suatu keperluan lebih aku sukai dari pada aku ber-i‘tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi, Madinah) selama satu bulan.” [HR. Ath-Thabarani dalam Mu‘jam al-Kabir 2/209/3, Ibnu Asakir 2/1/18. Lihat Ash-Shahihah No. 906 oleh Al-Albani].
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشَرَ صَلَوَاتٍ، وَحَطظَّ عَنْهُ عَشَرَ خَطِيْئَاتٍ
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali shalawat maka Allah akan bershalawat kepa danya sepuluh kali dan menghapus sepuluh dosanya”. [HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad: 643, Nasai dalam Al Kubra: 9890, Ahmad 3/261 dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad: 643 dan Ash Shahihah: 829].
Termasuk tanda cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hendaknya kita sering bershalawat kepadanya, berdasarkan perintah Allah ﷻ dalam firman-Nya;
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٥٦
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikatNya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 56).
Abu Aliyah Rahimahullah mengatakan, “Allah bershala wat maksudnya adalah pujian Allah kepadanya di sisi malaikat. Adapun shalawat malaikat ke padanya maksudnya adalah do’a untuknya”.[HR. Bukhari secara Mu’allaq, lihat Fathul Bari 8/676, Tafsir Ibnu Katsir 6/457]. Terlebih lagi apabila nama beliau disebut, maka hendaklah kita bershalawat untuknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
البَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang yang bakhil adalah orang yang ketika dise but namaku dia tidak bershalawat kepadaku.” [HR. Tirmidzi 3546, Ahmad 1/201. Syaikh al-Albani menshahih kannya dalam al-Misykah: 933.]
Keutamaan-keutamaan serta faedah shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak sekali. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah dalam kitabnya Jala’ul Afham hlm. 612-626 (Tahqiq Syaikh Masyhur Hasan) menyebutkan 40 faedah. Diantara keutamaan shalawat kepada Nabi adalah apa yang di sbadakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيّ صَلَاةً
“Manusia yang paling utama denganku pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” [HR. Tirmidzi (484). Syaikh al-Albani berkata: “Hasan lighairih.” Lihat Shahih at-Targhib (1668)!]
Al Kahthib Al Baghdadi Rahimahullah berkata: “Hadits ini merupakan keutamaan yang istimewa bagi para ahli hadits dan penukilnya karena tidak diketahui golongan ulama yang paling banyak bershalawat kepada Nabi daripada golongan ahli hadits baik secara lisan maupun tulisan”. [Syaraf Ashabil Hadits hlm. 76, tahqiq Amr bin Abdul Mun’im Salim].
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَن جَلَسَ فِي مَجْلِسِ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلّهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، إِلا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ.
“Barang siapa duduk dalam suatu majelis, lalu banyak berkata-kata yang tidak bermanfaat didalamnya, kemudian sebelum ia berdiri dari majlis itu ia mengucapkan: “Subhanaka Allahumma wa bihamdik, ashhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik” (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu), maka akan diampuni baginya apa yang terjadi di majlis tersebut.” [HR. Ahmad 2/494, Tirmidzi: 3433 dan dishahihkan Al Albani dalam Hidayah Ruwat: 2367].
Faedah: Hadits tentang do’a kafarah majlis ini dilemahkan oleh sebagian ulama semisal Imam Bukhari, namun hadits ini memiliki jalur yang banyak dari hadits Aisyah, Abu Sa’id, Jubair bin Muth’im, Saib bin Yazid dan lain-lain, dan sebagian jalurnya sangat kuat, sehingga layak terangkat sebagai hadits yang shahih. Lihat lebih luas dalam An Nukat ‘ala Ibnu Shalah 2/715-743 karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dan Silsilah Ahadits Ash Shahihah: 81 dan 3164 karya Syaikh Al Albani.
Duduk dalam majlis ilmu termasuk amalan pelebur dosa karena dengan duduk dalam majlis ilmu seorang yang lalai akan tersadar dan orang tersesat akan mendapatkan petunjuk dan seorang pendosa akan bertaubat. [Lihat Miftah Dar Sa’adah, Ibnul Qayyim 1/342].
Demikianlah sebagian amalan pelebur dosa yang hendaknya kita berusaha melakukannya semampu mungkin dan sebanyak mungkin karena kita semua butuh kepada ampunan Allah.
Sebenarnya masih banyak lagi amalan lainnya, namun apa yang sudah kita bahas semoga bisa mewakili. Bagi yang ingin memperluas pembahasan bisa membaca kitab-kitab khusus tentang masalah ini yang ditulis oleh para ulama. [Juz Fihi Ahadits Maghfirah Maa Taqaddam awa Maa Taakhara karya Al Mundziri, Ma’rifah Khishal Al Mukaffirah karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Bisyarah Mahbub bi Takfiri Dzunub karya Syaikh Abdur Rahman Al Adzra’i, Tafrih Qulub bil Khishal Al Mu-kaffirah karya Syaikh Muhammad Al Khathab].
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Download E-book Kajian ini: Amalan-amalan Pelebur Dosa – Ustadz Yusuf Abu Ubaidah Hafidzahullah
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |