Kamis, 4 Juni 2026

Terbit : Rab, 20 Mei 2026

Keutamaan Shalat Dhuha

Oleh : Takmir Masjid Baiturrohim Artikel Islam / Fikih
Keutamaan Shalat Dhuha

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Sholat Dhuha, Pengganti Sedekah Persendian

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan sholat-sholat sunnah untuk menyempurnakan ibadah sholat wajib, yang terkadang tidak dapat sempurna pahalanya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah sholatnya. Apabila baik, maka ia telah beruntung dan selamat. Dan bila rusak, maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari sholat wajibnya, maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki sholat Tathawwu’ (sholat Sunnah),” lalu disempurnakanlah dengannya yang kurang dari sholat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian. [HR at-Tirmidzi]. Dan di antara yang disyariatkan ialah Sholat Dhuha.

Keutamaan Sholat Dhuha

1. Mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia, yaitu 360 persendian, sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. (أخرجه مسلم).

Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah bersabda: “Di setiap pagi, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian dari salah seorang kalian. Setiap Tasbiih adalah sedekah, setiap Tahmiid adalah sedekah, setiap Tahliil adalah sedekah, setiap Takbiir adalah sedekah, Amar Makruf Nahi Mungkar adalah sedekah. Dan dapat memadai untuk semua itu, dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha”

[HR Muslim, kitab Sholat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Istihbab Sholat ad-Dhuha, hadis No. 720].

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فِي الْإِنْسَانِ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلًا فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Dalam diri manusia ada 360 persendian, lalu diwajibkan sedekah dari setiap sendinya.” Mereka bertany: ”Siapa yang mampu demikian, wahai Nabi Allah?” Beliau menjawab: ”Memendam riak yang ada di masjid dan menghilangkan sesuatu (gangguan) dari jalanan. Apabila tidak mendapatkannya, maka dua rakaat Sholat Dhuha mencukupkanmu.”

[HR Abu Dawud no. 5242 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Irwaa`ul-Ghaliil, 2/213 dan at-Ta’liq ar-Raghib, 1/235].

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga orang yang Sholat Dhuha empat rakaat pada hari tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ أخرجه الترمذي. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Dardaa’ atau Abu Dzar, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Allah Subhanahu wa Ta’alabahwa, Allah berfirman: “Wahai Bani Adam, sholatlah untuk-Ku pada awal siang hari empat rakaat, niscaya Aku menjagamu sisa hari tersebut”

[HR at-Tirmidzi, kitab Sholat, Bab: Ma Ja`a fi Sholat ad-Dhuha, no. 475. Abu ‘Isa berkata: “Hadis Hasan Gharib”. Hadis ini dishahihkan Ahmad Syakir dalam tahqiq beliau atas kitab at-Tirmidzi. Juga dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 1/147].

3. Sholat Dhuha merupakan sholat Al-Awwabin, yaitu orang yang banyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ. (أخرجه الحاكم).

Tidaklah menjaga Sholat Dhuha kecuali orang yang banyak bertaubat kepada Allah

[HR al-Hakim dalam al-Mustadrak, 1/314. Syaikh al-Albani menilai sebagai hadis hasan dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1994; lihat 2/324].

4. Jaminan Rumah Di Surga

Mengerjakan Sholat Dhuha 4 Roka’at dan Sholat Sebelum Zhuhur 4 Roka’at.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang shalat Dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga.”

(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349)

Hadits ini menunjukkan amalan sunnah sholat 4 roka’at di waktu Dhuha dan 4 Roka’at sebelum (Qobliyah) Zhuhur. Namun perlu diperhatikan bahwa mengerjakan sholat 4 roka’at di sini adalah dengan 2 roka’at kemudian salam dan 2 roka’at kemudian salam. Karena keumuman hadits tadi dikhususkan dengan hadits,

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

“Sholat sunnah pada malam dan siang hari adalah dengan 2 roka’at salam dan 2 roka’at salam.”

(HR. An-Nasai, no. 1666; Ibnu Majah, no. 1322. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

Waktu Pelaksanaan Sholat Dhuha

Waktu Sholat Dhuha dimulai dari terbitnya matahari hingga menjelang matahari tergelincir (zawal). Sedangkan akhir waktu Dhuha, yaitu dengan tergelincirnya matahari yang menjadi awal waktu Zhuhur.

Secara rinci Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa waktu Dhuha berawal setelah matahari terbit seukuran tombak, yaitu sekitar satu meter. Adapun dalam perhitungan jam, yang ma’ruf ialah sekitar 12 menit, atau untuk lebih hati-hati sekitar 15 menit. Apabila telah berlalu 15 menit dari terbit matahari, maka hilanglah waktu terlarang dan masuklah waktu untuk bisa menunaikan Sholat Dhuha. Sedangkan akhir waktunya, ialah sekitar sepuluh menit sebelum matahari tergelincir [Lihat asy-Syarhul-Mumti’, 4/122-123].

Waktu Paling Utama Sholat Dhuha

Adapun waktu paling utama dalam pelaksanaan Sholat Dhuha ialah di AKHIR WAKTUNYA. Demikian menurut penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, dan hal ini dijelaskan oleh hadis:

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Sesungguhnya Zaid bin Arqam melihat satu kaum melakukan Sholat Dhuha, lalu ia berkata: “Apakah mereka belum mengetahui bahwa sholat pada selain waktu ini lebih utama? Sesungguhnya, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sholat Al-Awwabin (ialah) ketika anak onta kepanasan”

[HR Muslim, kitab Sholat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Sholat al-Awwabina Hiina Tarmidhu al-Fishal, no. 748].

Dzikir setelah Shalat Dhuha

Ini bacaan shahih setelah shalat Dhuha.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat Dhuha, beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

“ALLOHUMMAGHFIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWABUR ROHIIM”

(artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ) sampai beliau membacanya seratus kali.”

(HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih.)

Semoga bisa diamalkan ba’da shalat Dhuha.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan dengan banyak beramal shalih. Aamiin.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Baiturrohim
JL. Matoa II No. 15 Karangasem Laweyan Surakarta
Luas Area245 m2
Luas Bangunan240 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2005
  • 10 Awal Dzulhijjah merupakan hari-hari terbaik untuk beramal, maka perbanyaklah amal shalih!