
بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃ Materi : Minhajul Hayah – Mengamalkan Ilmu
🎙┃ Pemateri : Ustadz Muhammad Saerozi, S.Pd.I, M.Pd Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Rabu , 15 Juli 2026 M / 01 Safar 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Baiturahim – Bulakindah Karangasem.
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Sesungguhnya manusia Allah ﷻ ciptakan dalam keadaan berkeluh kesah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’arij ayat 19-21:
۞ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا. إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا. وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا. إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
Agar tidak berkeluh kesah maka perlu adanya ilmu yang diamalkan. Dan inilah pembahasan kali ini…
Melanjutkan pembahasan mengenai jalan hidup seorang mukmin, sebelumnya kita membahas tentang dakwah dan ilmu. Maka, tahapan selanjutnya adalah mengamalkan ilmu yang dipelajari.
Karena tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Islam adalah agama amal! Mulai dari shalat, puasa, zakat6dan haji, semuanya praktek.
Ungkapan pepatah Arab:
الْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
“ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah”
yang bermakna pengetahuan yang luas tidak akan berguna jika tidak dipraktikkan. Seperti pohon yang rindang namun mandul, ilmu yang sekadar dihafal tidak memberikan dampak atau manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Ilmu adalah panduan, sedangkan amal adalah buah atau tujuan utamanya.
Jangan meremehkan amalan-amalan sekecil apapun, karena semua akan ada balasannya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Az-Zalzalah Ayat 7:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Terdapat kisah semut dan cicak yang Kisah ini menceritakan keberpihakan hewan saat Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud. Semut berusaha memadamkan api dengan setetes air di paruhnya, sementara cicak meniup api agar lebih besar. Dari peristiwa ini, semut menunjukkan pembelaan terhadap kebenaran, sedangkan cicak dikaitkan dengan perbuatan jahat atau pengkhianatan.
Kisah ini merupakan ilustrasi moral yang populer untuk menjelaskan keberpihakan:
Catatan: Kisah mengenai cicak yang meniup api Nabi Ibrahim adalah shahih berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ. Sebaliknya, kisah tentang semut yang membawa setetes air untuk memadamkan api tersebut tidak memiliki dasar riwayat (hadits) yang shahih; kisah ini lebih populer sebagai hikayat atau cerita rakyat (Israiliyat) yang sering disampaikan sebagai hikmah.
Masuk Surga dan Neraka Karena Lalat
Hadits berikut menunjukkan bahwa tauhid itu sangat penting dan syirik itu benar-benar bahaya, walaupun sebagian manusia merasa hal ini terlihat remeh. Dan inilah pentingnya berilmu sebelum beramal.
Hadits ini bercerita tentang orang yang masuk neraka hanya karena memberikan persembahan berupa seekor lalat yang tidak berharga, sebaliknya yang lainnya selamat karena tidak mau memberikan sesembahan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ
“Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”
Para sahabat bertanya: “Bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah?
Rasul menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi: “Persembahkanlah sesuatu untuknya!” Ia menjawab: “Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan”, mereka berkata lagi: “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!” Maka iapun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan iapun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain: “Persembahkalah untuknya sesuatu!” Ia menjawab: “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah, maka merekapun memenggal lehernya, dan iapun masuk ke dalam surga” (HR. Ahmad).
Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang terkadang terjatuh dalam kesyirikan dan ia tidak menyadarinya.
Amalan itu bentuk perwujudan keimanan, dan banyak orang yang berangan-angan namun sedikit yang beramal, banyaknya orang yang beramal namun sedikit yang bersungguh-sungguh, banyaknya orang yang bersungguh-sungguh namun sedikit yang sabar dan dari banyaknya orang yang bersabar namun sedikit yang ikhlas.
Maka, raihlah angan-angan (masuk ke dalam surga) dengan amalan-amalan yang istiqomah (bersungguh-sungguh dan kontinu) dan ikhlas.
Setiap orang kadang mengalami pasang surut dalam ibadah, sebagaimana pula dalam belajar. Itu memang suatu yang sifatnya naluri. Namun sebaik-baik orang adalah yang pasang surutnya masih dalam koridor yang dibenarkan Islam.
Nabi ﷺ bersabda :
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى
“Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).
Riwayat di atas menunjukkan bahwa setiap orang akan semangat dalam sesuatu, dan waktu ia kendor semangatnya. Dan di antara sebab mudah futur (malas dalam ibadah) adalah karena terlalu berlebihan dalam suatu amalan. Sehingga sikap yang bagus adalah pertengahan dalam amalan atau belajar, tidak meremehkan dan tidak berlebihan.
Bersemangatlah, karena Allah ﷻ akan lipatgandakan amalan-amalan. Firman-Nya :
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Siapa yang melakukan suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan balasan 10 kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160)
Hanya Allah yang memberi taufik.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |