
Menjadi imam itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi imam. Salah satunya adalah seorang imam harus mempunyai kemampuan untuk membaca al-Quran dengan baik dan benar.
Hal ini berdasarkan dari hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤهُمْ لِكتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ كَانُوا في الْقِراءَةِ سَواءً، فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا في السُّنَّةِ سَوَاءً، فَأَقْدمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كانُوا في الهِجْرَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا، وَلا يُؤمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ في سُلْطَانِهِ، وَلا يَقْعُد في بيْتِهِ عَلَى تَكْرِمتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Yang berhak menjadi imam shalat untuk suatu kaum adalah yang paling pandai dalam membaca al-Quran. Jika mereka setara dalam bacaan al-Quran, (yang menjadi imam adalah) yang paling mengerti tentang sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila mereka setingkat dalam pengetahuan tentang sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, (yang menjadi imam adalah) yang paling pertama melakukan hijrah. Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat yang lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat yang lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya. (HR. Muslim no. 673 dari Abu Masud al-Anshari radhiyallahu anhu).
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhu,
صلَّى صلاةً فقرأَ فيها فلُبِّسَ عليهِ فلمَّا انصرفَ قالَ لأُبيٍّ أصلَّيتَ معنا قالَ نعَم قالَ فما منعَكَ أن تفتحَ علَيَّ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat dan membaca (beberapa ayat al-Quran) dalam shalatnya, dan beliau terbalik-balik dalam bacaannya, seusai shalat beliau bersabda kepada Ubay; Apakah kamu tadi ikut shalat bersama kami? Ubay menjawab; Ya. Beliau berkata; Apa yang mencegahmu (untuk tidak membenarkan tentang ayat tadi)?” (HR. Abu Dawud no. 773)
Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwasanya makmum bisa mengoreksi bacaan imam yang salah.
Memberitahu imam yang lupa bacaannya atau membetulkan imam yang salah baca, hukumnya sunat bagi makmum sebagaimana disebutkan oleh Al-Aqfahsi dalam al-Badr al-Tammam (176-177).
Dalam suatu hadis Miswar al-Maliki radhiyallahu’anhu berkata: “Saya menyaksikan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sedang membaca (ayat) dalam shalat, namun beliau lupa membaca sesuatu dan meninggalkannya, maka seseorang berkata padanya (setelah shalat): wahai Rasulullah, engkau lupa ayat ini. Maka beliau bersabda: Alangkah baiknya engkau mengingatkanku (dalam shalat).” (HR Abu Daud: 906, hasan).
Imam Ibnu Qudamah berkata: “Bila ia (makmum) memberitahu imam tatkala ia tidak bisa melanjutkan bacaannya karena lupa, atau membetulkannya bila imam tersebut salah, maka hukumnya boleh baik dalam shalat wajib ataupun shalat sunat, sebab hal ini telah diriwayatkan dari amalan Utsman, Ali, dan Ibnu Umar radhiyallaahu’anhum…”. (Al-Mughni: 2/454-455).
Imam Asy-Syaukani juga berkata: “Kesimpulannya bahwa memberitahu imam tentang ayat yang ia lupa, atau membaca tasbih tatkala imam lupa salah satu rukun shalat adalah sunnah yang paten dan syariat yang telah ditetapkan…” (As-Sail Al-Jarrar: 1/242)
Akan tetapi bila kesalahan atau kelupaan ini berada dalam surat al-Fatihah maka itu wajib bahkan lebih wajib karena shalat tidak sah tanpa al-Fatihah.
Adapun adab-adabnya maka sebagai berikut:
يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ وَقُلۡنَ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا٣٢﴾ [الأحزاب: 32]
“Wahai istri istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tundukkan (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan berkatalah dengan perkataan yang baik”.
Inilah beberapa cara atau adab memberitahu imam yang lupa bacaan ayatnya, atau membetulkan kesalahannya, semoga bermanfaat. Wallohua’lam.
—
Dijawab oleh : Ustadz Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah dengan beberapa tambahandari markazinayah.com dan muslimah.or.id
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)
Sumber : Grup WA Belajar Islam Intensif
*****
| Luas Area | 245 m2 |
| Luas Bangunan | 240 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2005 |